Bagaimana rasanya ditinggal orang tua dan harus terjebak di sebuah keluarga yang disfungsional? Hal itu dialami oleh keempat protagonis anak pada film terbaru garapan Makoto Nagahisa, We Are Little Zombies (2019). Cerita dimulai dari kisah Hikari, anak tunggal keluarga yang kaya raya. Kesibukan menjadi salah satu alasan Hikari tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya secara intim. Bagi dirinya, satu-satunya kasih sayang yang dia dapatkan dari orangtuanya adalah melalui game-game pembelian mereka. Hikari juga selalu membawa sebuah gameboy yang tidak pernah lepas dari tangannya. Pada suatu hari, kedua orangtuanya terlibat dalam kecelakaan, Hikari pun seketika menjadi sebatang kara. Ia tidak merasakan kesedihan apapun saat mengetahui kabar tersebut.

Hikari bertemu tiga orang anak lain setelah melalui proses kremasi orangtuanya. Mereka juga mengalami nasib serupa. Ada Ishi berperawakan gemuk dan memiliki kepribadian lucu. Lalu ada Takemura yang begitu nakal dan tampak temperamental tetapi  memiliki sisi sentimentil yang melatarbelakangi semuanya. Yang terakhir ada Ikuko, satu-satunya perempuan dalam kelompok baru mereka. Ikuko memiliki karakter tegas namun sinis. Ia sosok pemimpin di grup kecil mereka. Keempat anak itu pertama kali bertemu ketika orangtua mereka dikremasi pada hari yang sama. Berawal dari kelompok kecil, mereka pun memutuskan membuat sebuah band. Zombie-zombie kecil pun langsung menggebrak dunia musik.

Aneh dan absurd tapi menghipnotis. Itulah kesan yang ditimbulkan saat menonton film ini. Karya eksentrik yang begitu ambisius dari debut film panjang Makoto Nagahisa mencoba menggali lebih dalam sisi hubungan personal antarmanusia. Hubungan personal yang seharusnya intim dari orangtua kepada anak-anak ternyata tidak semua seperti itu. Keempat zombie kecil ini memiliki alasannya sendiri-sendiri walau sama-sama tidak merasa memiliki ikatan lebih kepada orangtuanya. Belum lagi ketika sisi personal ini debenturkan dengan realita yang terkadang pahit. Manusia harus memilih untuk bersikap ketika mengalami itu, akankah terpuruk dalam kesedihan berlarut, langsung bahagia seketika, ataukah berlagak bodoh saja. Kondisi emosional anak-anak yang beranjak remaja pun relevan untuk mengeksplorasi berbagai hal-hal tersebut.

Makoto Nagahisa mengolah cerita yang begitu menarik menjadi bentuk sinematik yang tidak tanggung-tanggung. Ia membuat filmnya seperti sebuah game 8-bit RPG adventure dengan polesan grafis berwarna mencolok. Pengambilan gambarnya begitu variatif dari berbagai macam sudut. Selipan CGI seperti kondisi langit senja hingga seekor ikan besar yang mengitari gedung menguatkan keempat imajinasi anak-anak itu saat bercerita. Banyak kutipan dan punchline menarik pada setiap dialognya. Celetukan polos ketika mencoba memahami hidup terasa renyah sekaligus membuat berpikir. Setiap fase yang dilalui karakter masing-masing pun terasa memiliki detailnya tersendiri. Latar adegan Hikari selalu tampak megah, Ishi terbentuk dari restoran keluarganya yang selalu ramai pengunjung dari kelas pekerja, Takemura pada lingkungan bengkel rumahnya yang keras khas atmosfer jalanan, hingga kondisi Ikuko yang selalu tampak pucat dan kelam.

Keempat anak ini bagaikan kanvas lukisan yang memiliki gayanya masing-masing, tergambar dengan karakter warna serta jenis kuas dan catnya sendiri. Namun ketika keempat ini bertemu semua itu disatukan dalam sebuah kanvas yang jauh lebih besar. Semua warna masing-masing secara abstrak dilempar begitu saja. Hasilnya justru tidak jelek, tidak juga berlebihan, namun sangat memuaskan. Itulah proses pendewasaan diri keempat anak ini sepanjang cerita. Seperti yang dikatakan langsung oleh keempat anak ini, We Are Little Zombies (2019) adalah proses pencarian emosi mereka yang hilang. Entah karena telah pergi entah ke mana atau ternyata mengendap di dalam diri mereka dan tak kunjung timbul. Perjalanan band empat zombie kecil ini bisa ditonton di perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-14 2019 ‘Revival’ pada hari Sabtu, 23 November 2019 pukul 13.00 WIB. (2019)

 

Ditulis oleh Titus Kurdho | Disunting oleh vanis