Rumah sakit tak pernah tidur; 24 jam/7 hari, tempat ini selalu hidup untuk menghidupi orang-orang yang ada di dalamnya. Namun tak pernah ada yang tahu, bagaimana dimensi lain juga ‘hidup’  selama purna waktu tersebut. Vinegar Baths (2018) megantarkan kisah seorang suster di sebuah bangsal persalinan yang menemukan kesenangan dengan berjoget, makan, dan berkeliling sendirian. Suster tersebut bekerja seperti layaknya perawat pada umumnya, membantu proses kelahiran hingga menyiapkan santapan untuk pasien. Tak disangka, ia dan para pasiennya ternyata melakukan ritual-ritual di luar dugaan. 

Secara garis besar, Vinegar Baths (2018) menyampaikan kisah mengenai hubungan wanita dengan tubuhnya sendiri. Ide tersebut digagas oleh Amanda Nell Eu, sang sutradara, atas kesukaannya mengeksplorasi ide-ide tentang kewanitaan, tubuh wanita, dan politik seksual. Hal tersebut kemudian dipadukan dengan cerita rakyat menggunakan medium makhluk halus yang menjadi kisah bagi warga sekitar sedari kecil. Berbeda dengan film bergenre horor kebanyakan, Vinegar Baths (2018) tidak menyertakan unsur-unsur mengerikan secara langsung melalui medium audio maupun visualnya. Pada siang hari meski terlihat sangat cerah, aktivitas yang terjadi cenderung menjenuhkan seakan memadamkan hasrat untuk melakukan kegiatan apapun. Sedangkan pada malam hari, tone warna pada Vinegar Baths (2018) didominasi dengan warna merah muda dan sedikit biru. 

Amanda Nell Eu memang terbilang fokus pada unsur-unsur wanita di dalam karya-karyanya. Melalui film, ia menentang sistem patriarki yang masih kental, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Film pendek pertamanya, Lagi Senang Jaga Sekandang Lembu (2017), menceritakan kisah dua gadis remaja, yang salah satunya berubah menjadi pontianak (vampir perempuan). Lagi Senang Jaga Sekandang Lembu (2017) mengeksplorasi ketakutan akan seksualitas wanita. Lalu, pada feature film-nya yang berjudul Tiger Stripes, bertutur tentang pentingnya keberadaan sutradara wanita dalam industri yang umumnya didominasi oleh pria. Menonton Vinegar Baths (2018) layaknya menabrak patron yang telah mengakar dalam budaya kita. Kengerian yang hadir dalam cerianya merah muda dan pastel ternyata akan membekas lebih lama dalam benak siapapun yang menonton film berdurasi 14 menit ini. Silakan dicoba saja! 

Vinegar Baths (2018) telah meraih berbagai penghargaan, antara lain SeaShorts Award for Best Cinematography (2019) dan Next New Wave Award for Best Film (2019). Vinegar Baths (2018) akan berkompetisi dalam program Light of Asia 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival ‘Revival’ dan akan ditayangkan pada tanggal 20 November 2019 pukul 19.10 WIB di Studio 2 Empire XXI Yogyakarta. Jangan lewatkan petualangan menyelami ritual suster dan para pasiennya dalam balutan merah muda yang memanjakan mata hanya di Vinegar Baths (2018)! (2019)

 

Ditulis oleh Agatha Duhita | Disunting oleh vanis