Diskriminasi menjadi santapan sehari-hari bagi komunitas Kurdish di Turki. Ketika Ozan berusia enam tahun, ayahnya pun memutuskan membawa Ozan bersama seluruh keluarganya meninggalkan kampung halaman mereka. Jepang menjadi pilihan akhir untuk memulai hidup yang baru. Harapan menemukan “rumah yang nyaman” di Jepang sepertinya masih sulit untuk terwujud. Permasalahan berkelanjutan menyambut Ozan dan seluruh keluarganya. Sistem suaka Jepang masih belum bisa memberikan status imigran legal pada seluruh imigran Kurdish.

Menurut data terakhir pada tahun 2016, populasi komunitas Kurdish di Tokyo telah mencapai 2000 orang. Visa tinggal khusus dari pemerintah Jepang, secara berkala pun harus diperbarui setiap 3 bulan sekali. Usaha selama belasan tahun mengubah status menjadi imigran legal belum membuahkan hasil. Walau memang telah ada kebijakan yang memperbolehkan untuk tinggal, mencari pekerjaan menjadi salah satu persoalan pelik yang juga harus komunitas Kurdish hadapi. Dokumenter ini mengangkat perjuangan Ozan yang kini telah menginjak usia 18 tahun menghadapi itu semua. 

Krisis identitas menimpa Ozan selama 12 tahun dirinya menetap di Jepang. Kemampuan berbahasa Jepangnya telah fasih, namun sebagai seorang Kurdish ia harus melalui kesulitan di negara tempat ia tumbuh besar. Kejujuran Ozan bercerita kepada kamera tentang keluh kesahnya menggambarkan deritanya memang sangat ingin diutarakan dan didengar. Hubungan personal antarteman tercipta antardirinya dengan kamera. Pembicaraan tidak seperti wawancara kaku yang tidak intim. Bukan seperti orang asing, hanya bertemu sekali dua kali. Mata penonton seakan menjelma menjadi orang ketiga terdekat setelah Ozan dan dunianya. Aktivitas luar hingga dalam rumah Ozan wajib untuk disimak. Pekerjaanya sebagai kuli bangunan serabutan, mengurusi izin tinggalnya di kantor imigrasi hingga perdebatan dengan ayahnya tentang masa depan akan terasa dekat.

Ada dua hobi yang berhubungan dengan harapan dan cita-citanya. Kedua hobi bertolak belakang ini akan dipilih salah satu oleh Ozan untuk diperjuangkan. Penonton turut larut sepanjang proses perjalanan meraih impiannya ini. Kedua pilihan penentu nasibnya. Bersama Ozan, penonton akan terpaksa turut melangkah ke mana, bahagia menetap di mana, atau justru tidak keduanya.  Pesan dokumenter ini tidak hanya untuk penontonnya, tetapi juga menuju petinggi pemerintahan. Sudahkah mereka memperjuangkan hak kaum Kurdish dengan selayaknya. Lupakan sebentar keinginan mereka untuk menikmati hidup, hak dasarnya sebagai manusia saja masih belum terpenuhi. Rangkaian jejak langkah perjuangan Ozan dan komunitas Kurdish bisa diselami pada program Asian Perspectives: Shorts di 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival ‘Revival’.

 

Ditulis oleh Titus Kurdho | Disunting oleh vanis