Pada 2016, paman Aekaphong Saransate, Krit Saransate, dibunuh di rumahnya bersama istrinya, Sutinna Nookong. Motifnya adalah perampokan harta, dengan penembakan sebagai upaya untuk membungkam para korban. Para pelaku akhirnya tertangkap, tetapi tersangka utama yang merupakan dalang perampokan tersebut masih buron. Abu paman dan bibinya dilarung dari atas Jembatan Tinsulanonda ke sungai yang bermuara ke laut. Kejadian itulah yang membuat Aekaphong Saransate, seorang sutradara independen, selalu hampir menangis ketika memikirkan pamannya. Berangkat dari situ, ia kembali ke kota asalnya, Songkhla, di tepi laut Thailand selatan untuk membuat film dokumenter demi mengenang pamannya.

Aekaphong mencoba berdramatisasi dengan membuka film dengan rekaman video masa kecil sang paman dengan beberapa kerabatnya. Rekaman itu berupa video ketika mereka bermain di Pantai Samila, yang ikonik dengan Patung Putri Duyung dan batu-batu besar di sekitarnya. Mereka terlihat sebagai keluarga yang dekat dan saling menyayangi. Kehangatan tergambar melalui rekaman itu meskipun video tampak blur karena direkam perpuluh-puluh tahun yang lalu. Karena video saja tak cukup, Aekaphong juga menampilkan beberapa foto paman dan para bibinya ketika mereka kecil hingga dewasa. Dapat tergambar bagaimana sosok sang paman dan bagaimana ia menjalani hidup.

Ia menyisipkan rekaman berita pembunuhan pamannya dari sebuah program di televisi demi menunjukkan bahwa dalang utama pembunuhan masih buron. Aekaphong lalu mencoba mereka ulang kejadian yang menewaskan paman dan istrinya, dengan merekam tempat kejadian perkara di rumah pamannya. Dan ia mulai mengenang bagaimana posisi pamannya kala itu. Ia menyorot tempat kejadian perkara dengan imajinasi air laut yang mendatangi jendela-jendela tempat kejadian perkara. Dengan begitu, barangkali Aekaphong ingin menunjukkan bagaimana perasaan pamannya ketika kejadian itu.

Dan, sebagai dokumenter, rasanya bagi Aekophong kurang lengkap tanpa wawancara para kerabat-kerabat pamannya, yang merupakan paman dan bibinya. Dari paman dan bibinya, belakangan Aekaphong baru mengenal lebih dalam pamannya yang telah meninggal itu, dan tentu saja ia juga mulai mengenal lebih dalam paman dan bibinya yang masih hidup itu. Dari wawancara itu pula, mereka, sebagai keluarga, baru menyadari bahwa mereka ternyata sudah saling merindukan sejak lama. Bagi Aekaphong, film ini bisa menjadi ajang untuk bertemu kembali dan melepaskan yang sudah pergi. Seperti debur ombak di pantai yang datang dan pergi. Begitulah semestinya.

The Sea Recalls adalah film pendek kedua Aekaphong Saransate setelah Fon (2015) yang bersama dua film pendek dari sutradara lainnya dirilis di bioskop Thailand pada 2016 dengan judul Long Story Shorts: Lost in Blue. Di The Sea Recalls, selain sebagai sutradara dan penulis, Aekaphong juga bertindak sebagai narator dan memerankan dirinya sendiri. Kendati bersifat sangat personal, The Sea Recalls berhasil menghadirkan momen-momen untuk mengenang seseorang. Film berdurasi 27 menit ini juga berhasil membangkitkan kembali gairah untuk mempererat kembali tali kekeluargaan. Sebuah film keluarga yang sangat mengharukan. Film ini telah memenangi Film Dokumenter Terbaik di Thai Short Film and Video Festival 2018 di Thailand dan ADF Documentary Award di DMZ International Documentary Film Festival 2018 di Korea Selatan. The Sea Recalls akan ditayangkan di 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival “Revival” pada program Light of Asia – Blencong & Student Awards. (2019)

 

Ditulis oleh Achmad Muchtar | Disunting oleh vanis