The Science of Fictions atau Hiruk Pikuk si Alkisah (2019) adalah film panjang ketiga Yosep Anggi Noen setelah Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya (2012) dan Istirahatlah Kata-Kata (2016). Istirahatlah Kata-Kata (2016) berhasil memenangi Golden Hanoman di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2016. Melalui Istirahatlah Kata-Kata (2016) pula Yosep Anggi Noen dinominasikan sebagai Sutradara Terbaik Festival Film Indonesia 2016. Ketiga film panjang Yosep Anggi Noen tersebut sama-sama pernah tayang di Locarno International Film Festival, bedanya, The Science of Fictions (2019) masuk international competition dan dianugerahi Special Mention, bersama Maternal karya Maura Delpero.

The Science of Fictions (2019) bercerita tentang Siman (Gunawan Maryanto), seorang pemuda desa di Parangtritis, Yogyakarta, yang melihat beberapa orang asing tengah syuting pada malam hari. Dia melihat seseorang tengah berakting sebagai astronot yang sedang mendarat di bulan, dengan pesawat luar angkasa dan tanah bulan yang ternyata hanyalah rekaan. Hal tersebut mendadak mengancam dirinya karena dia ketahuan menjadi saksi pembohongan publik itu. Dia  pun akhirnya ditangkap dan lidahnya dipotong agar dia tidak bisa menceritakan kepada orang lain. Siman pulang dengan berdarah-darah.

Kemudian hidup Siman menjadi merana; dia bisu, menjadi sebatang kara, hingga pontang-panting bekerja karena uangnya diambil orang. Semua ini dia jalani dengan gerakan lambat layaknya seorang aktor yang sedang berakting mendarat di bulan. Banyak yang menganggapnya gila, tetapi ada yang memanfaatkannya sebagai penarik perhatian di berbagai acara, dari jathilan sampai pernikahan. Semua itu Siman jalani untuk hidup dan membeli berbagai barang untuk tujuan tertentu.

Perang Dunia II yang menyisakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Soviet, yang dikenal sebagai Perang Dingin, telah membuat kedua negara adikuasa tersebut berkompetisi ingin menjadi yang paling unggul. Tujuannya adalah memperoleh kekuatan dari banyak negara untuk mengukuhkan keadikuasaannya. Salah satu di antaranya adalah kompetisi penjelajahan ruang angkasa yang dikenal sebagai space race. Banyak upaya dilakukan untuk memenangi kompetisi tersebut. Dalam The Science of Fictions (2019), perekaman pendaratan manusia di bulan dilakukan di Indonesia.

Terlepas dari berita pendaratan manusia di bulan pada 1969 itu palsu atau bukan, sejarah secara politik bisa diciptakan oleh penguasa, dengan cara membelokkan kebenaran. Tokoh Siman dalam film ini ‘menari-nari’ layaknya seorang yang sedang mendarat di bulan. Dia mencoba mengolok-olok sejarah yang diciptakan penguasa tersebut karena kesaksiannya pada masa lalu masih terpatri dalam ingatannya. Siman adalah cerminan dari korban yang masih trauma akan luka pada masa lalu.

Berita palsu yang dikenal sebagai hoax memang menjadi fenomena tersendiri di era digital masa kini. Latar Perang Dingin pada 1960-an tampaknya memang sengaja dipilih Yosep Anggi Noen untuk ‘menyindir’ situasi politik di Indonesia pada masa itu. Bagaimana sebuah ‘berita palsu’ memberi dampak yang begitu besar pada masyarakat. Penayangan film ini di berbagai festival pada 2019 juga menandai 50 tahun usia berita pendaratan manusia pertama di bulan. Kendati berita palsu tengah ramai menjadi fenomena yang tak dapat terhindarkan pada masa kini, sebenarnya lebih dari setengah abad yang lalu pun ‘berita palsu’ itu sudah berdampak sangat besar pada masyarakat. The Science of Fictions (2019) adalah upaya untuk merayakan setengah abad ‘sejarah’ tersebut. The Science of Fictions (2019) akan ditayangkan di 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival “Revival” pada program Asian Features – Golden & Silver Hanoman Awards. (2019)

Ditulis oleh Achmad Muchtar | Disunting oleh vanis