Jamyang Jamtsho Wangchuk menjadi sutradara berbakat berikutnya yang membuka pintu sinema Bhutan ke mata dunia. Jamyang mengawali karirnya sebagai seorang aktor muda, pemeran Dalai Lama kala berusia 14 tahun dalam film Seven Years in Tibet (1997). Pengalaman beradu akting dengan Brad Pitt mengenalkan Jamyang masuk ke dalam belantika film, hingga saat ini serius memoles dunia sinema Bhutan. Selain berperan dalam layar, ia juga kini turut andil di belakang layar dengan The Open Door menjadi karya terbarunya.

Frame berwarna hitam bertuliskan Pema dengan sebuah gambar bunga lotus mengawali cerita The Open Door. Pema memang berarti bunga lotus berasal dari bahasa Tibet. Nama Pema memang umum di Bhutan, biasa dipakai untuk perempuan maupun laki-laki. Pema pun menjadi nama karakter utama. Kata Purity atau kemurnian bersanding dengan nama Pema, menggambarkan ia yang masih mungil, sebagai bayi dalam palungan. Kemurnian Pema akan berubah dan berkembang. Film ini adalah rekaman hidup Pema mengarungi derasnya arus zaman.

Ruang dan waktu menjadi fokus menarik dalam The Open Door. Pengambilan ruang secara konsisten dan minimalis dalam rumah, membuat pandangan penonton menjadi lebih dekat ke setiap adegannya. Pengambilan gambar tidak mengandalkan permainan kamera berlebihan. Kebijakan ini menguatkan kesan bahwa bukan kamera yang menghidupkan film ini tetapi setiap penghuni ruang rumah tersebut. Seluruh percakapan dari setiap karakternya memberikan nafas sepanjang alur cerita yang diangkat, tidak ada yang sia-sia.

Ruang rumah serta para penghuninya memiliki satu hal yang tidak bisa mereka lawan. Itu adalah waktu. Pergantian musim, peristiwa sejarah, konteks budaya, dan kehidupan Pema adalah empat aspek waktu yang menggerus ruang rumah dalam film ini. Musim dingin, musim semi, musim panas, dan musim gugur menjadi saksi proses kedewasaan Pema. Peristiwa sejarah dari dalam maupun luar negeri menegaskan bertahun-tahun telah Pema lalui berserta keluarganya. Kultur dan kebiasaan menjadi konteks budaya pembentuk karakter Pema serta pilihan hidupnya, apakah akan membuka pintu atau menutup pintunya. Film berdurasi 15 menit ini berhasil meringkas itu semua, berkesan sesuai porsinya. The Open Door bisa dinikmati dalam program Light of Asia pada 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival ‘Revival’.

 

Ditulis oleh Titus Kurdho | Disunting oleh vanis