Yogyakarta, 22 November 2019 – Film besutan Riri Riza, Humba Dreams (2019) kini ditayangkan di 14th Jogja – NETPAC Asian Film Festival setelah sebelumnya tayang premier di Shanghai International Film festival 2019. Tergabung dalam program JAFF – Indonesian Screening Awards, Humba Dreams (2019) ditayangkan pada hari Jumat, 22 November 2019 pukul 10.00 – 12.00 WIB di Studio 3 Empire XXI, Yogyakarta.

Humba Dreams (2019) menceritakan tentang Martin yang sedang dalam pengerjaan tugas akhir kampus memutuskan untuk mencuri waktu selama tiga hari dalam rangka singgah di kampung halamannya untuk menyelesaikan masalah keluarganya. Seperti kehidupan, tidak semua bisa berjalan dengan perencanaan, Martin yang semula berencana hanya tiga hari singgah berubah menjadi berlarut-larut bahkan ia sudah tidak menggubris Latif, teman satu kelompok tugas akhir yang meneror panggilan telepon dan pesan agar mengoyak-oyak Martin segera balik ke Jakarta.

Hal menjadi semakin rumit ketika Nggodu (re: dukun/tetua adat) memberitahu Martin bahwa sebelum meninggal, Ayah Martin mewariskan satu kotak yang hanya boleh dibuka oleh Martin. Setelah memperoleh izin dari Nggodu, Martin membuka kotak peninggalan ayahnya dan ia menemukan banyak benda warisan ayahnya yang kebetulan adalah seorang pembuat film. Di dalam kotak tersebut banyak benda-benda yang berhubungan dengan film mulai dari roll film, kamera kuno, dan beberapa foto hasil jepretan sang Ayah. Intrik film kemudian semakin berlarut saat Ibu Martin dan tetangganya tidak sabar untuk menyaksikan isi dari roll film yang selama ini disimpan oleh Ayah Martin.

Setelah Laskar Pelangi (2008) di Pulau Belitung, Atambua 39 Celcius (2012), dan Sokola Rimba (2013) di Sungai Makekal, Jambi, kini Sumba dikulik secara mendalam oleh Riri Riza. Setelah pemutaran, diadakan sesi diskusi bersama dengan perwakilan film Humba Dreams (2019) yang dihadiri oleh Mira Lesmana sebagai produser dan Ephy Sekuriti salah satu pemain.

Proses produksi Humba Dreams (2019) telah dimulai sejak tahun 2012 dimana Ifa Isfansyah, Riri Riza, dan Mira Lesmana pergi ke Sumba untuk syuting Pendekar Tongkat Emas. Proses yang panjang pulang-pergi di Waingapu dan tempat-tempat lain di Sumba, membuat mereka berhenti di satu titik. Pada akhirnya membuat mereka menggarap film Humba Dreams ini. “Kami terpukau dengan Indonesia bagian Timur, bukan hanya keindahan tapi juga masalah-masalahnya. Selalu berusaha mengajak anak-anak muda yang tertarik ilmu digital dan tau disiplin ilmu kita. Ini juga semacam nostalgia yang ingin Riri Riza ceritakan, ada yang ingin ia sentuh,” jelas Mira Lesmana dalam sesi tanya jawab.

 

Ephy Sekuriti yang turut hadir juga menceritakan pengalaman ikut serta dalam film ini yang begitu menyenangkan baginya. Apalagi treatment yang dilakukan oleh Riri Riza dan Mira Lesmana membuat ia nyaman dan bisa mengeksplorasi karakter dirinya di film. Salah satu penonton yang berasal dari Malang menceritakan tentang mengapa ia memilih film Humba Dreams. “Awalnya karena ini garapan Riri Riza dan Mira Lesmana dan juga latar tempatnya di Sumba, makin buat saya tertarik. Selain itu di awal film kita juga disuguhi tentang teori bahwa film itu adalah bentuk lain dari kenyataan. Memberikan kita eksperimen dan pengalaman baru potret Indonesia Timur,” tutur Agnina Rahmadinia yang sudah empat kali mengikuti festival ini.