Apa yang ada dalam benak anda ketika orang-orang di sekitar anda mengatakan bahwa anda adalah orang gila? Apakah anda akan bersikeras mengatakan pada orang lain bahwa anda waras dan balik menyerang dengan sanggahan bahwa merekalah yang sebenarnya gila?

Berangkat dari cerita pendek gubahan Eka Kurniawan, Wregas Bhanuteja bersama dengan rumah produksi Rekata berhasil melakukan adaptasi dari cerita pendek tersebut. Adaptasi ini bercerita mengenai Marwan, seorang bawahan seorang bos besar yang memiliki hotel mewah di kawasan wisata. Marwan bersama bawahan lainnya ditugaskan si bos untuk mengumpulkan orang-orang gila di sekitar hotel lalu membuangnya ke hutan agar turis hotel tidak merasa terganggu. Akan tetapi, Marwan yang dipercayai bosnya untuk menyingkirkan orang-orang gila tersebut memiliki kisahnya sendiri. Berbeda dengan bawahan yang lain saat melakukan perintah dari bosnya, Marwan nampak mengalami pergulatan batin saat melihat bagaimana teman-teman sesama bawahannya memperlakukan orang-orang gila yang telah mereka razia.

Marwan memiliki caranya sendiri untuk memperlakukan para orang gila yang ia buang ke tengah hutan. Marwan yang hidup dalam batas kemiskinan membenturkan dirinya pada ide gila dalam menyikapi perintah dari bosnya. Ia berpikir di luar akal untuk memperlakukan orang-orang gila tersebut daripada membuangnya ke tengah hutan.

Tak Ada yang Gila di Kota Ini (2019) juga menyinggung tentang ketimpangan sosial yang terjadi antara gaya hidup si kaya dan si miskin. Dalam tabrakan yang terjadi antara dua sisi tersebut, disajikan sebuah kesamaan yang nampaknya ingin dibangun melalui film berdurasi dua puluh menit ini; yakni ide mengenai definisi dari ketidakwarasan itu sendiri. Wregas Bhanuteja menceritakan ketidakwarasan pada taraf yang tidak waras. Apakah benar bahwa orang-orang gila adalah mereka yang nampak tidak waras, atau sebenarnya merekalah orang-orang yang sebenarnya waras? Jawaban atas definisi ketidakwarasan ini dapat disaksikan dalam Tak Ada yang Gila di Kota Ini (2019) yang akan ditayangkan pada program kompetisi Light of Asia tanggal 21 November 2019 pukul 16:00 WIB di studio 2 Empire XXI Yogyakarta. (2019)

 

Ditulis oleh Bonivasios Dwi | Disunting oleh vanis