Nasib manusia dan realita tentunya seringkali tidak berjalan seiringan. Anak kecil maupun orang dewasa memiliki substansi tersendiri tentang bagaimana cara mereka memahami keadaan sekitar dan menyadari realitas kehidupan. Dengan memanfaatkan suasana hiruk pikuknya jalanan, Pham Thien An sebagai sutradara menyuguhkan percakapan antara tiga orang pemuda yang dinilai sangat menyentil sifat manusiawi seorang manusia melalui Stay Awake, be Ready. Kecelakaan motor, anak kecil dengan permainan api, seorang wanita dengan produk yang dipromosikannya, dan juga permainan extras yang begitu ramai dan kompleks, membuat film ini terlihat sangat natural dengan konsep jalanannya.

Apa yang membuat film ini menjadi simple but meaningful? Percakapan tiga orang pemuda yang tidak terlalu teoritis namun persis dengan realita. Sembari menikmati makan malam, mereka berdiskusi bagaimana menyikapi realitas dalam hidup. Tak heran, narasi yang disampaikan di awal film memang terkesan meraba-raba untuk dipahami. Namun, dialog yang hanya beberapa menit di pertengahan film cukup menyita perhatian penonton untuk memahami simple but meaningful-nya film ini.

Dengan durasi kurang lebih 14 menit, Stay Awak, be Ready memperlihatkan bagaimana permasalahan dan realitas dunia yang begitu luas dikemas dengan latar dan suasana yang begitu simple dan singkat. Begitu pula dengan permainan kamera yang minimalis namun penuh makna. Tidak heran, film ini pun memenangkan Best Short Film dalam ajang Cannes Director’s Fortnight 2019 dan telah ditayangkan di berbagai festival film di beberapa kota seperti Bali, Busan, Taiwan, Brazil, dan Kanada. Jangan lewatkan penayangan Stay Awak be Ready pada 14th Jogja-Netpac Asian Film Festival ‘Revival’ dalam program Light of Asia – Blencong & Student di Empire XXI Yogyakarta. (2019)

Ditulis oleh Dhea Nurfadhila | Disunting oleh vanis