Salsabila dan Andrea adalah sahabat semasa kecil. Mereka sama-sama tunanetra sejak lahir. Ketika Dea, panggilan akrab Andrea, ikut orang tuanya pindah ke Amerika Serikat, nasib keduanya pun menjadi berbeda.
Film dibuka dengan adegan Dea menyetir mobil didampingi seorang instruktur dan penumpang. Dea yang tunanetra, tampak berpenutup mata warna hitam, dibimbing oleh instruktur tersebut. Beberapa kali mobil yang disetir berjalan mulus, tetapi sesekali Dea mengerem mendadak. Dea sangat beruntung karena dikelilingi oleh lingkungan yang ramah disabilitas. Sarana dan prasarana Amerika Serikat sangat ramah pada penyandang disabilitas. Di sana, penyandang disabilitas dapat berbaur dengan penduduk biasa dengan nyaman.

Berbeda dengan Salsabila di Indonesia yang pontang-panting menghadapi berbagai ketidaknyamanan ketika harus berbaur dengan penduduk biasa. Salsabila tinggal di asrama khusus penyandang disabilitas. Dia menjalani rutinitasnya di asrama bersama-sama para penyandang disabilitas lainnya. Dia sekarang sudah kelas XII, tetapi Salsabila tidak sekolah di sekolah khusus penyandang disabilitas, melainkan di sekolah umum.
Hal tersebut membuat dirinya harus ekstra berusaha menangkap setiap apa yang diucapkan gurunya. Mencatat pun Salsabila tidak secepat teman-temannya karena dia harus memakai alat untuk menulis huruf Braille. Dalam pelajaran Matematika mengenai bangun datar dan ruang pun Salsabila masih meraba-raba bagaimana bentuk segitiga, lingkaran, segi empat, kubus, dan sebagainya. Tentu saja Salsabila ketinggalan dan tidak bisa sepenuhnya paham dengan apa yang disampaikan oleh gurunya.

Beruntung sekali karena Salsabila kerap dibantu temannya dalam menaiki tangga atau berjalan ke kantin. Temannya yang baik itu merupakan teman sebangkunya. Mereka tentunya bersahabat. Namun, teman sebangkunya itu ternyata juga penyandang disabilitas; tunarungu. Mereka pun tidak bisa berkomunikasi secara langsung karena yang satu tidak bisa melihat, yang satu tidak bisa mendengar dan berbicara. Mereka berkomunikasi melalui aplikasi di smartphone dengan memanfaatkan teknologi yang ada.
Sementara itu, Dea di Amerika Serikat mempunyai banyak teman dan lingkungan yang mendukung bagi penyandang disabilitas, seperti teman yang siap menerjemahkan dalam kata-kata pada suatu pertunjukan, atau siapnya wahana bermain yang ramah bagi disabilitas. Sekolah pun Dea diajar oleh guru khusus dan ditunjang oleh berbagai alat peraga khusus untuk orang-orang sepertinya.

Kontrasnya nasib dua sahabat tunanetra di dua negara yang berbeda tersebut diracik secara mengharukan oleh Ucu Agustin dalam film dokumenter pendek berdurasi 34 menit ini. Meskipun berbicara mengenai penyandang disabilitas, tetapi Ucu Agustin tidak terlihat mengeksploitasi secara berlebihan disabilitas itu. Dia menyorot bagaimana hidup menjadi seorang remaja putri tunanetra di Indonesia dan Amerika Serikat. Bagaimana mereka menjalani kehidupan sehari-hari. Bagaimana lingkungan mereka. Bagaimana kontrasnya keadaan terhadap penyandang disabilitas di kedua negara tersebut; dan bagaimana sulitnya untuk tidak bergantung pada orang lain.

Kritiknya memang tajam terhadap berbagai sarana dan prasarana yang tidak memadai, serta responsibilitas orang-orang terhadap mereka. Meskipun perbandingan kehidupan tunanetra di kedua negara tersebut dinilai kurang imbang, sebenarnya, Ucu Agustin tak hanya mengangkat soal itu. Film ini juga bicara tentang persahabatan dan -tentu saja- impian tunanetra sebagai individu yang terus diperjuangkan. Sangat mengharukan. Sejauh Kumelangkah akan ditayangkan di 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival “Revival” pada program Asian Perspectives – Short. (2019)

Ditulis oleh : Achmad Muchtar | Disunting oleh : vanis