Yogyakarta, 21 November 2019 – Di hari ketiga penyelenggaraan Jogja – NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 14 ‘Revival’, terdapat dua pemutaran film di taman LPP Yogyakarta, yaitu pemutaran Layar Komunitas seri kedua dan SOTA Short. Pemutaran Layar Komunitas seri kedua adalah program lanjutan sebelumnya, sedangkan SOTA sendiri kependekan dari School of The Art Singapore yang mana merupakan sekolah seni pra-tersier nasional pertama Singapura dengan kurikulum seni dan salah satunya adalah film. Berada di bawah naungan Ministry of Culture, Community and Youth (MCCY) Singapore, SOTA mengajak siswa untuk mengeksplorasi sejarah, teori dan proses kreatif pembuatan film, serta mempelajari bagaimana makna dikonstruksi melalui film. Para siswa pun akan memperoleh keterampilan teknis, disiplin ilmu dan keterampilan sosial yang diperlukan dalam pembuatan film.

Pada sesi pertama dilakukan pemutaran film pendek oleh SOTA, diiantaranya Short Hair (2019) oleh Jovan Aw, Mother Tongue (2019) oleh Gwyneth Woon, Daffodils at Dawn (2019) oleh Takemoto Risa, Meat Me in The Middle (2019) oleh NG Shu Yun, Bear  (2019) oleh Tasmin Emma. Seperti biasa, setelah pemutaran film kurang lebih selama 30 menit dilakukan Q&A bersama kelima filmmaker yang bersangkutan. Di balik pembuatan film pasti akan ada kesulitan dan tantangan tersendiri yang turut dialami teman-teman SOTA. Terkuak ternyata dalam film terjadi hal yang tak terduga  dalam oleh film Bear (2019). “Jadi pada bagian melempar boneka karena teman – teman nya mau datang, si boneka hilang beneran. Jadi kami harus mencari boneka yang sama dan baru.” ucap Emma sang sutradara.

Selain SOTA short pada pemutaran malam ini dilanjutkan dengan pemutaran Layar Komunitas 2. Film yang diputar diantaranya Others or ‘Rust en Orde’ (2017), karya Timoteus Anggawan Kusno. Angin Pantai Sanleko (2018), disutradarai oleh Rahung Nasution dan Yogi Fuad. Sunny Side of the Street (2018), karya Andrew Kose. Lamun Sumelang (2019), film karya Ludy Oji. Edelweiss (2018), karya sutradara Timoteus Anggawan Kusno.

Setelah pemutaran selesai, diadakan tanya jawab bersama sutradara diantaranya, Yogi Fuad dari Angin Pantai Sanleko, Ludy Oji dari Lamun Sumelang, dan Andrew Kose dari Sunny Side of the Street. Ketiga sutradara ini membagikan pengalaman dan ide awal cerita dari film mereka.

Diawali oleh Yogi Fuad yang bercerita bahwa film itu merupakan hasil dari membedah semua footage dari film sebelumnya, yaitu Pulau Buru Tanah Air Buru yang kemudian ia susun kembali. Film dengan pendekatan kritik politik dokumenter dan Yogo tidak khawatir karena pendekatan itu. Baginya kebanyakan orang tidak fokus tentang bagaimana generasi muda seharusnya tahu tentang kejadian yang sebenarnya terjadi pada masa itu, tahun 1965. “Kendala sebenarnya ada di masalah dana. Jadinya, memanfaatkan semua footage yang sudah ada, baik sudah atau belum dipakai. Film ini juga menggambarkan bagaimana bangsa kita ini seharusnya menyampaikan informasi tentang sejarah kepada anak muda atas kejadian yang sebelumnya,” jelasnya saat sesi tanya jawab.

Sesi tanya jawab dilanjutkan oleh Ludy Oji Prastama, sutradara dari Lamun Sumelang, film yang juga mendapatkan dana istimewa dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Film yang mengangkat isu tentang pulung gantung di mana mengambil ide besarnya tentang kematian. Ludy juga menjelaskan film ini merupakan gambaran kehidupan sebagai sesuatu yang lucu. “Sesuai judulnya Lamun Sumelang yang berarti kewaspadaan, rasa was-was menuju kematian. Sebenarnya kita itu merindukan kematian bukan menunggu dan itu lucu. Apalagi saat ditonton kembali ternyata satir ini menarik juga padahal menurut saya aneh tetapi masih bisa diterima semua orang,” tuturnya.

Sesi terakhir diisi oleh sutradara Sunny Side of the Street, Andrew Kose, yang menceritakan bahwa ini merupakan tugas akhirnya saat bersekolah di Melbourne. Ide cerita yang berasal dari pengalaman keluarganya, saat ia berumur 4 tahun, serta catatan-catatan saat peristiwa di masa itu. “Banyak pikiran-pikiran negatif saat menulisnya karena banyak cerita dari media yang negatif. Untuk menetralkannya, saat menulis mendengar lagu jazz yang mana salah stau lagu jazz itu kemudian dijadikan judul pada film ini. Jazz memberikan energi positif,” ucap Andrew.

Hampir sama seperti layaknya program Open Air Cinema, film-film yang tergabung dalam Layar Komunitas disaksikan di luar bioskop konvensional. Layar super besar dipasang di sebuah ruangan outdoor, penonton dapat menikmati film baik duduk ataupun lesehan. Tak hanya itu, total sebanyak 246 penonton yang hadir  dapat menikmati semua film tanpa harus mengeluarkan biaya. Seperti salah satu penonton bernama Syifa yang cukup kagum dengan film-film yang diputar hari ini. Gadis asal Bandung ini terkesan dengan Edelweiss di pemutaran terakhir. “Walaupun tanpa dialog dan bikin kita mikir, tapi sinematografinya bagus banget dan aku terkesan dengan hal itu,” ucapnya.