Secara definitif, Runanubandha berarti ingatan tubuh yang tersusun atas memori genetik dan memori relasi fisik intim; sebuah ingatan yang mengikat seorang anak pada orang tuanya, seorang suami pada istrinya, atau relasi intim lainnya. Runanubandha (2019) atau The He without Him bercerita tentang perjalanan spiritual yang mencoba menelaah ingatan-ingatan tersebut. Shatarupa, seorang anak perempuan pergi mencari ayahnya di Kolkata, Bengal Barat karena mendengar suara ayahnya. Suara ini ia dengar dalam bentuk seorang lelaki muda yang menjelma sebagai seorang sutradara. Sifat keayahan dari sosok itu membuat Shatarupa tertarik, namun ia merasa terjebak di dalam kerumitan emosional dan kesederhanaan dalam dirinya.

Pada film ini, kita dapat menemukan sebuah paralel dengan kisah mitos Dewa Brahma, bapak dari alam semesta dan Sang Pencipta; yang dikisahkan terpukau dengan putrinya sendiri, Shatarupa (atau juga dikenal sebagai Saraswati). Latar musik dan suara pendukung dalam film ini membangun suasana cerita dan mengembangkan struktur imajinasi yang telah dikonstruksikan sejak awal. Adegan-adegan minim dialog membuatnya semakin menarik karena bisa membuat kita, para penonton, berlomba untuk menerka-nerka apa maksud dan makna di balik itu. Apalagi, beberapa adegan diberikan efek hitam-putih, memberikan kesan dramatis yang kuat.

Film karya Amartya Bhattacharyya ini dikemas dengan memberikan latar suara dan narasi semi-surealis penyair bernama Michael Hemanta Biswas yang sedang berdialog dengan Shatarupa. Menariknya lagi, Runanubandha (2019) adalah film independen Bhattacharyya yang mengisi peran kru film ini; mulai dari sutradara, penulis naskah, pengisi suara, penata sinematografi, desain kostum hingga penyunting. Bhattacharyya dikenal dengan karya-karyanya yang mengangkat sudut gelap jiwa manusia dan pencitraannya. Walau menggunakan pemeran non-profesional dan teknis yang minim, film ini telah meraih penghargaan Penyuntingan Terbaik di Mosaic International South Asian Film Festival 2019, Ontario, Kanada.

Runanubandha (2019) masuk ke dalam program Focus on Bengali Cinema dalam perhelatan 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival ‘Revival’. Focus on Bengali Cinema menayangkan tiga film pilihan sebagai wujud persembahan dalam perayaan seratus tahun sinema Bengali. Selain Runanubandha (2019), dua film lain yang masuk dalam program ini adalah Parcel (2019) karya Indrasis Acharya dan Chandrabati Kotha (2018) karya N. Rashed Chowdhury. Selain disajikan dalam program film, perayaan seratus tahun sinema Bengali diwujudkan dalam program kuliah umum dan diskusi mengenai peradaban sinema Bengali bersama para sineas Bengali. (2019)

 

Ditulis oleh Dwi Atika N, vanis | Disunting oleh vanis