Repost adalah sebuah film dokumenter performatif karya Vera Isnaini sebagai tugas akhirnya di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta. Bercerita tentang Vera yang mempunyai seorang kakak bernama Nia seorang korban bully, dimana ia aktif bermain media sosial yang kemudian pada sebuah unggahan di akun media sosial berujung dengan cyberbullying dan membuka luka lamanya. Di sini sang adik berkisah dengan sudut pandangnya mengenai prahara yang dialami sang kakak selama hidupnya. Nia kecil adalah gadis yang ceria dan juga menyayangi semua hewan peliharaan di rumahnya, mulai dari kucing, monyet, hingga musang. Umur yang kian bertambah membuatnya bersemangat untuk memulai hari baru di bangku sekolah dasar, karena ia akan bertemu dengan banyak teman baru. Akan tetapi, dari situlah awal mula Nia merasakan sikap yang tidak semestinya ia dapat dari teman-teman. Nia di bully oleh teman satu sekolahnya hanya karena masalah fisik yang ia miliki.

Bully atau perundungan adalah sebuah tindakan yang dilakukan secara sengaja untuk menyakiti secara fisik verbal, psikologis oleh seseorang terhadap seseorang atau sekelompok orang terhadap seseorang atau sekelompok orang yang merasa tidak berdaya. Sebuah fenomena yang mungkin tidak asing ditelinga kalian. Bisa jadi kalian adalah pelaku ataupun korban atau bisa saja kalian adalah korban yang kemudian menjadi pelaku bully dan sebaliknya.

Film dokumenter yang dikemas melalui sudut pandang orang ketiga ini menggunakan narasi atau latar suara darinya dalam menceritakan awal mula kakaknya ter-bully. Pada film ini, digambarkan dari awal mula hingga puncak depresi yang dialami oleh Nia, yaitu saat melakukan perjalanan sekolah di masa SMA. Teman-temannya melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan karena sudah melebih batas wajar, karena kejadian itu Nia kemudian mulai mengurung diri dan depresi berat. Depresi merupakan gangguan mental yang sering terjadi di tengah masyarakat, umumnya meliputi keadaan gangguan emosi, motivasi, fungsional, dan gerakan tingkah laku serta kognisi. Penyebab depresi sesungguhnya tidak dapat diketahui secara pasti namun telah ditemukan sejumlah faktor yang dapat memengaruhinya. Harga diri merupakan salah satu faktor yang sangan menentukan perilaku individu, karena setiap orang menginginkan penghargaan yang positif terhadap dirinya. Sehingga seseorang akan meraksakan bahwa dirinya berguna atau berarti bagi orang lain meskipun dirinya memiliki kelemahan baik secara fisik maupun secara mental. Banyak orang yang mengatakan dia gila, padahal depresi berat dan gila adalah dua hal yang berbeda.

Menariknya lagi, film ini dibuat oleh sutradara untuk sang kakaknya, Nia. Juga untuk memberitahukan bahwa sikap mem-bully  sesorang bisa berdampak buruk bagi korbannya. Terlebih menyangkut keberlangsungan hidup seseorang, karena banyak kasus dimana korban melakukan tindakan bunuh diri. Di film ini juga mengedukasi sang penonton bahwa jika kita adalah korban atau pelaku maka kita bisa melaporkan atau dilaporkan karena di Indonesia sendiri sudah ada aturan yang mengatur hal tersebut, yaitu undang-undang dan bisa berujung penjara bagi pelakunya.

Dokumenter berdurasi 18 menit ini membawa kita melihat bagaimana korban cyberbullying dalam menjalani hidupnya yang berat dan cara ia dalam melanjutkan hidupnya. Anehnya untuk beberapa orang yang menonton film ini dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Nia, mungkin bisa mengalami sesak nafas ataupun muncul serpihan-serpihan memori yang membuat sedih. Bisa jadi ini dikarenakan trauma dimasa lalu seperti yang dialami oleh korban.

Repost dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan tentang bagaimana seorang korban cyberbullying ketika menjalani hidup di bawah traumanya. Masuk ke dalam program Layar Komunitas, Repost ditayangkan pada tanggal 22 November 2019 di LPP, Yogyakarta. (2019)

 

Ditulis oleh Dwi Atika N | Disunting oleh vanis