Gerakan revolusi EDSA (Epifanio de los Santos Avenue) pada 1986 di Filipina telah berhasil menggulingkan Presiden Ferdinand Emmanuel Edralin Marcos yang dinilai korup, diktator, dan pelanggar HAM.  Presiden Ferdinand Emmanuel Edralin Marcos dipaksa melepaskan jabatannya sebagai presiden Filipina setelah 21 tahun berkuasa. Revolusi EDSA ini menginspirasi gerakan rakyat sipil lain karena dinilai mampu berlangsung tanpa adanya pertumpahan darah. Pada musim panas tahun 2001, Presiden Joseph Estrada, Presiden Filipina lain yang dinilai korup, juga telah berhasil digulingkan dengan gerakan yang terinspirasi dari gerakan pada 1986 tersebut, yang dikenal sebagai revolusi EDSA II. Reminiscences of the Green Revolution adalah film pendek karya Dean Colin Marcial yang berlatar pemberontakan yang populer tersebut. Selama tiga bulan, para mahasiswa dan golongan masyarakat kelas pekerja berjuang membersihkan negara dan berjuang untuk perubahan. Film tidak berbicara tentang EDSA II, tetapi momen-momen pada malam sebelum terjadinya gerakan itu.

Yung Martin (Abner Delina Jr.) dan kawan-kawannya adalah salah satu rombongan yang ikut gerakan EDSA II, tetapi yang mereka perjuangkan berfokus pada isu lingkungan hidup. Protes mereka adalah tree-spiking, tree-sitting, vandalisme perusahaan, dan sabotase. Mereka menginap di salah satu rumah bersama-sama untuk mempersiapkan beberapa hal yang dibutuhkan saat demo, seperti tulisan-tulisan yang kritis. Film bergerak ke suasana hubungan antar-para aktivis ini, seperti bercinta, minum-minum, dan menyanyi bersama—merayakan masa muda mereka. Pengenalan pada beberapa aktivis pun dilakukan sang narator, dengan menjelaskan beberapa karakter inti dan nasib mereka di masa-masa setelah ini.

Film ini kemudian memberi kejutan ketika pada akhirnya mereka merencanakan sesuatu yang berbahaya dan di luar kesepakatan beberapa aktivis. Film ini juga memberi sentakan ketika sudut pandang sang narator dan nasibnya diungkap. Reminiscences of the Green Revolution adalah upaya untuk mengenang gerakan tersebut sekaligus menyebar teror kepada yang diprotes. Dengan pengambilan gambar menggunakan teknik handheld camera, tentunya film ini memang ditujukan untuk ‘menghantui’. Film yang pernah tayang di Toronto International Film Festival 2019 pada program Short Cuts ini akan ditayangkan di 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival “Revival” pada program Asian Perspectives – Shorts. (2019)

Ditulis oleh Achmad Muchtar | Disunting oleh vanis