Mlitang, seorang remaja asal Desa Melintang Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur memiliki cita-cita untuk menjadi pemain sepak bola. Namun, ternyata cita-cita tersebut tak dapat dengan mudah ia wujudkan. Mlitang harus berhadapan dengan tantangan-tantangan yang semakin menjauhkannya dengan cita-citanya. Ibunya lebih banyak menuntutnya untuk belajar di rumah. Selain itu, tempat tinggal Mlitang merupakan daerah perairan yang hampir tidak ada memiliki tanah lapang yang dapat digunakan bermain sepak bola. Rumah dan bangunan serta aktivitas yang dilakukan orang-orang Desa Melintang berada di atas air, tepatnya Sungai Mahakam.

Keadaan demikian tidak memadamkan semangat Mlitang untuk tetap bermain bola. Bahkan, ketika harus pergi ke desa seberang untuk mencari lapangan agar dapat bermain bola, dilakukan oleh Mlintang dalam usahanya menggapai cita-cita. Perjuangan Mlitang serta teman-temannya berbuah hasil, mereka lolos dalam suatu pertandingan sepak bola. Hal tersebut membuat Mlitang berlatih terus menerus. Ketika suatu saat mereka mempersiapkan pertandingan selanjutnya, Eman, salah satu teman Mlitang tersandung, jatuh, dan tenggelam. Sembari menangis, Ibu Mlitang memukuli anaknya karena keras kepala tetap bermain bola. Teguran orang tua Eman dan pengalaman buruk sang Ibu, membuat Mlitang tidak boleh melanjutkan perjuangannya menjadi pemain sepak bola.

Meskipun Ibunya melarang bermain bola, Ayah Mlitang membebaskan anaknya untuk menekuni apa saja yang diinginkan sang anak. Ayah Mlitang justru menasehati anaknya untuk dapat mengahadapi segala tantangan ketika ada masalah, segala pekerjaan ada risiko nya sendiri-sendiri. Setiap hasil atau karya membutuhkan perjuangan sesuai dengan porsi orang tersebut. Terkadang kesulitan terberat adalah keberhasilan yang paling membanggakan. Segala sesuatu yang telah diusahakan pada dasarnya tidak ada yang sia-sia. Ketika berani mengambil keputusan dan pantang menyerah melalui prosesnya, pengalaman akan bertambah melampaui impian apa yang dicitakan. 

Mlintang merupakan manifestasi kerja keras dan usaha pantang menyerah dari seorang anak untuk menggapai sesuatu yang tak mungkin. Kepercayaan atas ketidakmungkinan ini merupakan semangat yang menjadikan Mlintang dapat menggapai cita-citanya. Film pendek karya David Richard ini telah tayang di Balinale Bali International Film Festival 2019 dan dapat disaksikan di 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival ‘Revival’ pada Program Open Air Cinema. (2019)

 

Ditulis oleh Agatha Duhita | Disunting oleh vanis