Yogyakarta, 22 November 2019 – Asian Perspectives menjadi salah satu program pemutaran film  di JAFF 14 ‘Revival’, program ini turut mempresentasikan wajah sinema Asia yang baru setiap tahunnya. Beragam ide, tutur kata, serta budaya turut mewarnai film-film Asia yang tergabung dalam Asian Perspektif. Berbagai karya layar lebar tersebut terbagi atas 15 film feature dan 15 film shorts.

Film Qinglang de Tiankong (2018) karya Thamsatid Charoenrittichai, Dissect (2018) karya Siavash Shahabi, Kebelakang Pusing (2019) karya Gerard Nagulendran, Reminiscences of the Green Revolution (2019) karya Dean Colin Marcial, serta Memoirs of Saira & Salim (2018) karya Eshwarya Grover akan menjadi satu kelompok film yang tayang pada pukul 13.00 WIB di Studio 1 Empire XXI Yogyakarta. Setelah pemutaran, sesi tanya jawab pun berlangsung bersama sutradara dari film Qinglang de Tiankong, Thamsatid Charoenrittichai dan perwakilan dari film Kebelakang Pusing, Yullis Lam and Nicia Lam hadir untuk menceritakan pengalaman dan gagasan mereka kepada para penikmat film hingga tersebarnya perspektif-perspektif baru dalam kancah perfilman.

Yullis Lam perwakilan dari film Kebelakang Pusing (2019) menjelaskan film ini merupakan bentuk untuk meningkatkan rasa nasionalisme dalam peringatan Total Defence Day di 15 Februari 2016 di Singapura. “Cerita yang diambil berdasarkan kisah nyata yang terjadi dalam program sekolah menengah atas, dimana mereka bermain peran dan merasakan ketegangan saat terjadinya penjajahan dari Jepang,” jelas Yullis menanggapi pertanyaan dari penonton.

Selanjutnya, sutradara Qinglang de Tiankong menceritakan tentang ide awal filmnya. Berlatarkan cerita sebuah keluarga etnis China yang memegang teguh budayanya, di mana tidak banyak dari etnis tersebut menjalani budaya mereka di Thailand. Misalnya saja penggunaan bahasa mandarin. “Kebanyakan orang Thailand adalah Chinese tapi mereka kebanyakan tidak tahu tentang identitas dan normanya, masalah itu yang kemudian saya ambil untuk dibahas dan diangkat pada film ini.”, ceritanya.

Jumlah penonton yang hadir sekitar 111 orang memeriahkan pemutaran film yang berlangsung hingga pukul 15.00 WIB tersebut. Pemutaran film yang dilakukan bersama dengan sesi tanya jawab ini juga turut menghilangkan batas antara filmmaker dengan para penikmat film. Penonton juga berharap kegiatan menonton, sekaligus diskusi dengan para pemangku film terus dilaksanakan. Hal tersebut dirasakan oleh Valerie, mahasiswa University of Melbourne yang menyempatkan diri untuk hadir ke festival ini dan menonton film pada program Asian Perspectives 3. “Dari semua film saya rasa Reminiscences of the Green Revolution punya potensi untuk jadi film panjang. Lalu film-film yang ada sudah pas masuk dalam program ini karena tiap negara punya keunikan budaya masing-masing dan mereka bisa mengemasnya seiring mengikuti perkembangan zaman yang ada,” jelas Valerie sesudah sesi tanya jawab.