Fahsai, seorang perempuan berumur 21 tahun hidup dalam sebuah rumah yang ditinggali bersama dengan keluarga besar dari Ibunya. Ayahnya telah berpisah dengan Ibunya 10 tahun lalu dan tiba-tiba kembali ke rumah Fahsai. Dalam film berdurasi selama 20 menit ini penonton seakan dengan sengaja dipersilahkan untuk menginterpretasikan makna yang ada sepanjang film ini diputar. Mulai dari dialog-dialog yang minim, raut wajah tiap tokoh, emosi-emosi yang dialami tokoh cerita, dan adegan-adegan sisipan yang berada dalam luar alur cerita.

Melalui Qinglang de Tiankong, kita seakan diajak menjadi penonton yang aktif untuk mengobservasi bagian-bagian sekecil apapun dalam film ini. Minimnya dialog dalam film ini sekiranya memang dibangun sedemikian rupa oleh sang sutradara, adegan-adegan dengan minim dialog tersebut diimbangi dengan atmosfer memuncak saat kehadiran antartokoh dipertemukan tanpa adanya perbincangan. Kemunculan sosok aneh yang menyerupai penari-penari dalam opera China dihadirkan hampir dalam tiap adegan atau pada tiap transisi antar-adegan. Sosok-sosok aneh ini sengaja dihadirkan dalam film ini untuk memperkuat iklim interpretasi bagi penonton. 

Menonton film ini seperti halnya melihat kehidupan orang-orang yang ada di sekitar kita. Kita dipersilahkan untuk memaknai kehidupan tersebut sesuai dengan hal-hal yang kita perhatikan terhadap mereka. Karya Thamsatid Charoenrittichai ini masuk dalam seleksi resmi Kurzfilm Festival Hamburg 2019, SeaShorts Film Festival 2019, dan akan tayang dalam program Asian Perspectives: Shorts di 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2019 ‘Revival’. (2019)

Ditulis oleh Bonivasios Dwi | Disunting oleh vanis