Periode 70-an menjadi salah satu dekade penting sejarah perfilman Thailand. Lonjakan jumlah produksi film lokal Thailand sangat pesat pada masa itu. Salah satu penyebabnya adalah kebijakan pemerintah Thailand yang menerapkan pajak tinggi untuk film-film impor; sebuah kebijakan yang membuat berang para produsen film Hollywood. Berawal dari hal tersebut, sineas Thailand begitu gencar melakukan produksi film tanpa takut tersaingi oleh raksasa perfilman luar negeri. Adalah Cherd Songsri, salah satu sutradara karismatik Thailand yang menawarkan sebuah karya segar bagi khalayak penonton film lokal Thailand. Songsri menelurkan sebuah film yang diadaptasi dari novel karya Mai Muengderm, Plae Kao (The Scar). Kisah cinta klasik tentang perjuangan sepasang kekasih yang tidak direstui oleh intrik dan takdir menggebrak industri sinema Thailand pada tahun 1977.

Berkisah pada tahun 1936 di pelosok pedesaan Bang Kapi, hidup seorang petani bernama Kwan yang hanya tinggal bersama ayahnya setelah ibunya telah lama tiada. Bang Kapi digambarkan sebagai daerah penuh bentangan hutan, danau, dan berhektar-hektar sawah. Sambil bersenandung likay dan meniup riang seruling bambu bersama kerbaunya, hidup Kwan terasa gembira saat membajak sawahnya. Semuanya berubah ketika ia bertemu dengan pujaan hatinya, Riam. Kini, dunianya hanya berisi paras wajah Riam. Ia pun kemudian berhasil memikat Riam dengan pesona dan sikap pantang menyerahnya. Namun situasi dan kondisi menyulitkan perjuangan cinta mereka karena ayah Riam membenci dan bermusuhan dengan ayah Kwan. Pada setiap kesempatan ketika kedua belah pihak keluarga bertemu, selalu ada konflik yang menyertai. Belum selesai satu masalah, Bangkok menjadi masalah baru yang menghalangi Kwan untuk hidup bersama pujaan hatinya. Konflik antara Kwan dengan keluarga Riam berujung luka dibasuh dengan romantisnya ungkapan cinta Kwan dan Riam. Tragedi demi tragedi akan mengikat penonton dengan karakter-karakter di dalamnya, terutama kepada Kwan, pemuda polos yang kini telah dibutakan oleh cinta.

Plae Kao (The Scar) merupakan film sarat kultur dan tradisi. Sepanjang 121 menit, cerita mengenai perjuangan Kwan disisipi identitas kultural Thailand yang kental, dari mulai tarian upacara adat pedesaan Bang Kapi, lagu-lagu daerah yang dinyanyikan oleh Kwan, peraturan adat istiadat yang ketat, praktik dukun pengobatan tradisional, hingga kepercayaan terhadap arwah-arwah leluhur. Respon negatif kritikus dalam negeri periode akhir 70-an terhadap Plae Kao (The Scar) karena dituduh menguatkan stereotip tentang Thailand berhasil ditepis Songsri dengan prestasi. Plae Kao (The Scar) menjadi salah satu box office Thailand dengan menghasilkan keuntungan hingga 13 juta Baht, mencetak rekor tersendiri pada masa itu. Karya kontemporer terbaik Songsri mendapatkan gelar Golden Montgolfiere pada perhelatan Three Contintents Festival tahun 1981. Plae Kao (The Scar) juga ditetapkan sebagai salah satu dari 360 film terklasik di dunia oleh Museum of The Moving Image, London.

Setelah direstorasi kembali oleh Thai Film Archive pad atahun 2018, kini Plae Kao (The Scar), atas kerja sama dengan Asian Film Archive, dapat disaksikan pada program Layar Klasik 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival ‘Revival’. Plae Kao (The Scar) akan ditayangkan pada tanggal 20 November 2019 pukul 13:00 WIB di Studio 5 Empire XXI Yogykarta. (2019)

 

Ditulis oleh Titus Kurdho | Disunting oleh vanis