Yogyakarta, 20 November 2019 – Pemutaran film The Sweet Requiem (2018) karya Ritu Sarin dan Tenzin Sonam di Studio 2 Empire XXI, Yogyakarta pada Rabu pagi diisi 91 penonton dari berbagai kalangan. Masuk dalam program Asian Perspectives, film ini mencoba memberikan representasi wajah sinema Asia. Film merupakan satu dari sekian banyak film perwakilan Asia dalam program ini.

Ragam ekologi, budaya, dan situasi sosial di Asia juga menjadi salah satu alasan Jogja-NETPAC Asian Film Festival mendorong keberlangsungan program Asian Perspectives. Inisiasi program ini berangkat pada gagasan mengenai bagaimana sebuah film dapat menjadi tolak ukur keberlangsungan sebuah negara. Asian Perspectives mencoba menawarkan perspektif mengenai film-film Asia yang majemuk dan sangat beragam. Seperti yang dijelaskan oleh Programmer Asian Perspectives, Yustinus Kristianto Gorivana Ageza bahwa semua film yang dipilih dalam program ini adalah bentuk dari keresahan yang menggambarkan masyarakat Asia tentunya dimana hal itu berkaitan dengan tema JAFF tahun ini “Revival”

The Sweet Requiem terinspirasi dari kejadian nyata pada bulan September 2006 di mana seorang pendaki asal Rumania berhasil merekam kejadian brutal penembakan yang oleh tentara penjaga perbatasan China terhadap sekelompok warga Tibet. Dikarenakan mereka mencoba melintasi perbatasan Nangpa-La antara Tibet dan Nepal menuju India. Film yang memakan waktu selama 7 tahun dalam proses pengerjaannya ini mendapat penghargaan NETPAC Award pada Kolkata International Film Festival 2018 dan berhasil menyabet juara dalam nominasi Audience Award di Aurangabad International Film Festival 2019.

Pemutaran The Sweet Requiem (2018) dihadiri oleh sutradara Tenzin Sonam dan Ritu Sarin. Mereka berdua bercerita mengenai proses pembuatan film ini. Berangkat dari kisah nyata, bagi Tenzin, peristiwa tersebut menjadi inspirasi awal dalam membuat yang awalnya diinisiasikan untuk menjadi film dokumenter. Namun, dikarenakan beberapa pertimbangan dan terlalu berisiko, akhirnya Tenzin dan Ritu memutuskan untuk membuatnya menjadi film fiksi. “Belum ada film yang menggambarkan kisah perjuangan warga Tibet ketika menyebrang ke India lengkap dengan segala ancaman bahaya. Baik dari ancaman alam yang ada hingga para tentara militer perbatasan China yang selalu mengintai,” jelasnya.

Tak hanya Tenzin, Ritu juga menambahkan cerita mengenai tempat penampungan warga Tibet di India di mana dalam komunitas pengasingan tersebut, ribuan anak baik hanya diantar orang tuanya atau bahkan satu keluarga memutuskan mengungsi ke Delhi Selatan. Hal tersebut dilakukan agar mereka bisa mendapatkan akses pendidikan yang lebih layak. “Kami  sangat menyadari bahwa banyak anak-anak di Delhi Selatan yang tumbuh tanpa dampingan orang tua. Kami menyadari isu ini dan ingin mengeksplorasi lebih dalam,” ungkap Ritu.

Kedua sutradara menyebutkan bahwa The Sweet Requiem merupakan film low budget. Masalah utama saat proses produksi adalah lokasinya yang bertempat di daerah bersalju. Masalah lainnya adalah cuaca sangat panas di Delhi Selatan yang membuat peralatan film yang digunakan tidak berfungsi sama sekali. Padahal pada saat syuting di pegunungan, peralatan film tersebut tidak memiliki kendala apapun.

Film yang juga masuk seleksi resmi di 16 festival film kelas internasional dan tiga di antaranya adalah Toronto International Film Festival 2018, Hawaii International Film Festival 2018, dan London Human Rights Watch Film Festival 2019 ini, mencoba memberikan pengalaman-pengalaman dan perspektif baru dalam pergerakkan dunia sinema. Maka dari itu ini merupakan kesempatan yang baik karena film ini dapat hadir di tengah festival JAFF ke 14.