Yogyakarta, 21 November 2019 – Hadir di tengah JAFF 14 ‘Revival’, program Light Of Asia menayangkan beberapa film pendek wajah sinema Asia. Pada kesempatan ini, lima film dari negara-negara Asia Tenggara ditayangkan; antara lain, Dossier of the Dossier (2019), Bura (2019), A Million Years (2018), Stay Awake, Be Ready (2019), dan No One is Crazy In This Town (2019) karya Wregas Bhanuteja.

Sebagai program yang menyoroti bagaimana kegelisahan-kegelisahan di Asia dikemas dalam berbagai konteks, Light Of Asia kembali menyajikan beberapa film yang mewakili kegelisahan itu. Berlangsung di Studio 2 Empire XXI, Yogyakarta, film-film tersebut begitu memanjakan mata 287 penonton.

Lima film ini memiliki cerita dan kegelisahannya masing-masing. Diantaranya, Dossier of the Dossier (2019) karya Sorayos Prapapan, merupakan curahan hati sang sutradara, Sorayos Prapapan, ketika mencari pendonor dana untuk film pertamanya lima tahun yang lalu. Bukan uang yang ia dapatkan, namun banyak email penolakan dari calon pendonor untuk membantu mewujudkan mimpinya. Bura (2019) karya Eden Junjung, berkisah tentang seorang santri yang meninggalkan tugasnya menjaga guru mengaji untuk bertemu kekasihnya, seorang santriwati, di hutan. A Million Years (2018) karya Danech San, perjalanan relaksasi jiwanya si wanita muda yang kemudian bertemu dengan sosok asing yang tidak ia perkirakan sebelumnya. Stay Awake, Be Ready (2019) karya Pham Tien, Percakapan tiga orang pemuda yang tidak terlalu teoritis namun persis dengan realita. No One is Crazy In This Town (2019) 6 sakit jiwa dari jalanan kota dan mengasingkan mereka di hutan supaya tidak mengganggu para turis.

Wregas Bhanuteja, sutradara film No One is Crazy In This Town (2019), dan Eden Junjung, sutradara film Bura (2019) turut hadir untuk mengisi sesi diskusi setelah pemutaran. Sesi diskusi berjalan semarak dengan hadirnya pertanyaan-pertanyaan yang menarik. Salah satunya adalah pertanyaan mengenai alasan pemilihan rasio gambar yang berbeda daripada umumnya; No One is Crazy in This Town (2019) menggunakan rasio 23.5:1, sedangkan Bura (2019) menggunakan rasio 4:3. Kedua sutradara tersebut memiliki jawaban berbeda, Eden menjelaskan bahwa ia ingin mencoba mengeksplorasi rasio yang berbeda dan cerita ini lebih fokus disampaikan dengan rasio tersebut sekaligus mengingatkan pada film-film era 90an. Sedangkan Wregas, awalnya film ini memiliki rasio 16:9, kemudian diubah 23.5:1 karena dirasa paling tepat untuk dapat memvisualkan scene-scene pemandangan seakan-akan memberikan gambaran seperti “kacamata para turis”; yaitu bagaimana sesuatu terlihat indah namun kenyataan tidak seindah yang terlihat.

Penayangan Bura (2019) dan No One is Crazy in This Town (2019) merupakan penayangan perdana di Indonesia. Perjalanan sinema dunia yang pesat membawa hadirnya film pendek sebagai bagian darinya. Berawal dari sebuah tanggapan terhadap teknologi, film pendek bergerak menjadi media tutur yang ringkas tanpa mengurangi aspek-aspek dalam film. Membaca geliat pergerakan tersebut dalam tema utama Revival, film-film yang berada di dalam program Light of Asia menjadi sebuah semangat yang segar bagi sinema Asia.