Mari sejenak kembali ke masa lalu saat revolusi industri akhir abad ke-18 hingga abad ke-19 di mana tenaga manusia digantikan dengan tenaga mesin. Tenaga manusia tak dibabat habis seketika pada kala itu, pada kenyataannya, tenaga manusia adalah yang menggerakkan mesin-mesin tersebut. Misalnya di Sawahlunto, Hindia Belanda kala itu, ribuan buruh sebagai tenaga kerja paksa menggali batubara tiap jamnya. Sekarang, mesin-mesin tersebut secara masif menjelma teknologi, yang sialnya, mengendalikan manusia. One of Those Murder (2019) merupakan respon atas fenomena tersebut. 

One of Those Murder (2019) dibuka oleh suasana mencekam dengan iringan musik layaknya horor klasik. Terlihat dua orang laki-laki sedang mengamati mayat yang tergeletak di depan mereka. Mbak Thara, adalah namanya. Kedua laki-laki tersebut berdialog mengenai Mbak Thara seakan tak mengenal ujung. Keluwesan keduanya dalam berdialog dan merespon kehadiran Mbak Thara seakan merupakan fragmen kehidupan nyata yang sebenarnya –yang sejatinya merupakan hal yang menakutkan– mengingat bahwa hal tersebut bisa saja atau bahkan mungkin pernah terjadi.  

Jerry Hadiprojo, sang sutradara, menyatakan bahwa One of Those Murder (2019) lahir dari kemarahannya atas budaya ingin menjadi viral di Indonesia; mulai dari yang melakukan hal-hal bodoh kepada dirinya sendiri, hingga yang sifatnya bisa mencelakakan orang lain.* One of Those Murder (2019) menjadi manifestasi atas obsesi manusia terhadap jumlah like, comment, dan subcriber atau pengikut di media sosial. Selain itu, stigma dan persepsi masyarakat menjadi elemen yang menyelinap masuk dalam film berdurasi sepuluh menit ini. Perempuan disalahkan karena cara berpakaiannya, kebiasaan membandingkan satu hal dengan hal lain yang saling bertolak belakang, orang baik lebih cepat meninggal, dan beberapa stigma serta persepsi lainnya. Setelah film berakhir, segalanya bermuara pada pertanyaan mengenai apa maksud dari frasa One of Those Murder yang menjadi judul dari film ini sendiri. 

One of Those Murder (2019) dapat dikatakan sebagai representasi visual dari lagu Dalam Hitungan, .feast: kita membangun bersama Tuhan yang baru, dunia yang berani, semua orang berseru, Taman Eden dengan wi-fi dan kamera depan, malaikat yang hadir mengukur dalam hitungan, kehidupan dibenahi arahan redaksi, kematian disiarkan Instagram TV.  Sungguh merupakan karya yang segar nan menyentil jiwa-jiwa obsesif masa kini. Sebelum mendarat ke Yogyakarta, One of Those Murder (2019) telah berkeliling di berbagai festival film dan memenangkan penghargaan seperti, Silver Award for Best Dark Comedy dan Bronze Award for Best Acting Duo di Independent Short Awards 2019 Los Angeles, Outstanding Achievement Award di Drunk International Film Festival 2019 Bhutan, Official Selection The Screen International Film Festival 2019 East Sussex, UK, Semi Finalist – Kino London’s The People’s Film Festival 2019 London, Official Selection Indie Short Fest 2019 Los Angeles; dan Official Selection Mexican Tour 2019. 

Film pendek gubahan Jerry Hadiprojo ini dapat disaksikan di Program Layar Komunitas 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival ‘Revival’ yang akan ditayangkan di LPP Yogyakarta pada Jumat, 22 November 2019 pukul 19.00 WIB. Selamat datang di dunia yang baru! (2019)

Ditulis oleh Jenifer Papas | Disunting oleh vanis

 

*Dikutip dari Kompas.com, 8 Agustus 2019 pukul 15:28 WIB.