Nogi, remaja laki-laki berumur 17 tahun, sedang terombang-ambing dalam lautan asmara yang ia jalin dengan Haida, teman satu kampung dan sekolahnya. Lautan asmara itu menemui teluk saat Nogi terpilih menjadi satu-satunya siswa yang mendapat beasiswa untuk melanjutkan studinya di pulau Jawa. Di satu sisi, Nogi tidak rela jika ia harus pindah ke Jawa karena hal tersebut akan membuat dirinya jauh dari belahan jiwanya. Sementara di sisi yang lain, Ibu Haida tidak merestui hubungan antara anaknya dengan Nogi dikarenakan aib yang dimiliki oleh Ayah Nogi. Di antara peliknya romansa Nogi dan Haida, hadirlah tokoh serba tahu, Hayata. Hayata memiliki peran penting sebagai penghubung antara Nogi dan Haida ketika salah satu dari keduanya tidak bisa saling bertatap muka.

Mengambil latar di Sigi, Sulawesi Tengah, film berdurasi 24 menit ini secara apik membangun nuansa Indonesia di daerah sub-urban masa 1957. NOGI 1975 – Poetry and Woman Dwelling merupakan puisi visual nan nostalgis tentang kehidupan remaja era paska kemerdekaan. Sigi digambarkan sebagai tempat yang memiliki alam yang asri, sungai yang jernih, dan ladang yang hijau. Bersandingan dengan latar tersebut, romansa Nogi dan Haida menjadi sajian yang menggemaskan. Perjalanan kisah mereka yang dilalui dengan surat menyurat, saling menggoda, dan bermain kerlingan mata menjadi sesuatu yang manis dan relevan. 

Karya gubahan Adetriyan ini telah meraih seleksi resmi Nukhu Film Festival 2019 New York dan sedang berkompetisi di Lift-Off Global Network First-Time Filmmaker Session 2019 Inggris. NOGI 1975 – Poetry and Woman Dwelling ditayangkan di Open Air Cinema pada perhelatan 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival ‘Revival’.  (2019)

 

Ditulis oleh Bonivasios Dwi | Disunting oleh vanis