Motel Acacia adalah film panjang kedua dari Bradley Liew setelah Singing in Graveyards (2016) yang tayang di Venice International Film Festival 2016 pada sesi International Critics Week. Film Filipina ini dibintangi oleh para aktor dari berbagai negara, antara lain JC Santos dan Agot Isidro dari Filipina, Jan Bijvoet dari Belgia, Vithaya Pansringarm dari Thailand, Talia Zucker dari Australia, Will Jaymes dari Amerika Serikat/Australia, Bront Palarae dari Malaysia, dan Nicholas Saputra dari Indonesia. Film bergenre horor ini ditulis oleh Bradley Liew dan Bianca Balbuena dengan memadukan isu imigran ilegal dengan mitologi hantu pohon Filipina yang dapat memakan pria dan menghamili wanita.

Film ini berkisah tentang JC (JC Santos) yang dipaksa mengambil alih bisnis motel ayahnya (Jan Bijvoet). JC yang semula tidak terlalu mengetahui bisnis tersebut bahkan tidak dekat dengan ayahnya pun menaruh kecurigaan. Motel ini letaknya jauh dan sangat terpencil serta menjadi sarang bagi imigran ilegal. Selain itu, JC juga menyadari bahwa di dalam ranjang di dalam sebuah kamar di motel tersebut terdapat roh jahat yang bisa memakan pria yang berbaring di atasnya. Hal itu ia lihat sendiri melalui uji coba seorang pria imigran yang dipaksa masuk ke kamar motel itu. Ia terisap ke dalam ranjang dan tak pernah kembali.

Melalui sepasang kekasih imigran ilegal, JC juga mengetahui bahwa, roh tersebut tidak hanya memakan pria, tetapi juga dapat menghamili wanita. Wanita yang telah kehilangan pasangannya itu dibuntingi oleh roh jahat yang menyerupai monster itu. Satu per satu imigran yang ada di motel itu menjadi curiga lantaran sang wanita melahirkan monster yang menyerang nyawa mereka. Mereka pun ingin segera keluar dari motel tersebut. Tapi nahas, di luar sedang terjadi badai salju sehingga mereka terkurung di motel itu. Mau tak mau mereka harus bertempur melawan monster itu, termasuk melawan sesamanya agar bisa bertahan hidup.

Meskipun memiliki label horor, film ini tidak melulu menampilkan hantu dan monster. Film ini menampilkan kengerian yang dipantik melalui adegan-adegan yang dapat memancing rasa penasaran dan suasana yang tengah mengancam. Dengan desain produksi dan sinematografi yang agak mengingatkan kita pada film-film Hollywood, film horor ini juga merupakan perpaduan cerita seru dan aksi. Diangkatnya mitos hantu pohon dari Filipina yang dipadukan dengan tindakan mengancam dan diancam oleh imigran ilegal menjadi sesuatu yang menarik dalam film ini.

Latar daerah bersalju di film ini dapat diasosiasikan kepada Amerika Serikat sebagai negara dengan jumlah imigran terbanyak di dunia. Populasi di dunia yang meningkat pesat, konflik perang, dan keadaan yang tidak sejahtera mendorong terjadinya imigrasi. Para imigran ini bisa saja menjadi ancaman bagi negara yang didatangi, sehingga tak akan mengherankan jika ada sebuah negara yang menghendaki pembasmian para imigran tersebut. Situasi dalam film ini bisa menggambarkan bagaimana perasaan para imigran tersebut, yaitu mereka yang tengah terancam di negara asalnya, juga terancam di negara yang didatanginya karena bisa saja kedatangan mereka tidak diinginkan. Film ini berusaha menangkap kegelisahan mereka, termasuk keinginan pembasmian dari penguasa. Motel Acacia akan ditayangkan di 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival “Revival” sebagai film penutup. (2019)

Ditulis oleh Achmad Muchtar | Disunting oleh vanis