Yogyakarta, 20 November 2019 – Jogja-NETPAC Film Festival 14 ‘Revival’ kembali menghadirkan Special Program; sebuah program film spesial yang menyuguhkan film-film beragam dari Asia Pasifik. Pada kesempatan kali ini, JAFF 14 ‘Revival’ menyuguhkan program Shanghai International Film Festival, sebuah program spesial hasil kerja sama dengan Shanghai International Film Festival 2019. Program ini bertujuan untuk melihat bagaimana wajah sinema Tiongkok dalam menyikapi pergerakan isu dan topik dunia. Beberapa film yang ditayangkan di program ini merupakan film pilihan yang telah dikurasi dan ditayangkan di Shanghai International Film Festival 2019 pada 15-24 Juni 2019 lalu. Special Program: Shanghai International Film Festival dibuka oleh film Have Your Name Carved (2018) karya XU Lei.

Have Your Name Carved menceritakan tentang kisah perjuangan Ho dan istrinya mengasuh Haiwa, anak tunggal mereka yang didiagnosa menderita tumor otak pada usia 5 tahun. Penyakit ini mengancam nyawa Haiwa dan belum ditemukan solusi kesembuhannya. Waktu terus bergulir mengiringi penderitaan Haiwa di rumah sakit. Ho dan istrinya mendapatkan kabar buruk bahwa nyawa Haiwa tidak akan bisa tertolong lagi.

Have Your Name Carved (2018) merupakan satu dari tiga film Tiongkok yang berhasil diboyong ke Indonesia. Kedua film di antaranya adalah Spring Tide (2019) karya Yang Lina dan The Swing Maker (2018) karya Yu Daxiong. Ketiga film ini merupakan representasi wajah sinema Tiongkok yang menyuguhkan kekuatan mengenai ragam kehidupan masyarakatnya. Para sineas Tiongkok memproduksi film-film aksi penuh ledakan, film-film noir, komedi, eksperimental, bahkan film mengenai suku etnis minoritas. Penayangan Have Your Name Carved (2018) di Studio 5 Empire XXI Yogyakarta dihadiri oleh 36 penonton yang kebanyakan merupakan mahasiswa Yogyakarta maupun di luar daerah Yogyakarta. Salah satu penonton yang berasal dari Universitas Padjajaran, Bandung bernama Aldo mengatakan film ini menarik pada setiap proses-proses didalamnya. “Ada salah satu scene yang menurutku menarik, saat ada bagian disaat Ho dan istrinya mencari organ donor untuk menolong anaknya itu ternyata dari organ donor ilegal. Kalau feeling-nya pas nonton film ini sangat raw baik dari segi teknik dan ceritanya juga bahkan dari teknik pengambilan gambarnya handheld jadi sangat jujur kalau secara keseluruhan film ini bagus mungkin film ini bisa lebih berani.” ujar Aldo setelah menonton film berdurasi 115 menit ini.

Special Program: Shanghai International Film Festival 2019 adalah wadah untuk mengadakan pertukaran kebudayaan sinema dengan tujuan untuk memamerkan dan memaparkan standar-standar perfilman di Tiongkok. Diharapkan program ini dapat memberikan perspektif mengenai perkembangan sinema Asia melalui mata Tiongkok sehingga menjadikan inspirasi bagi sineas Indonesia dalam berkarya.