Yogyakarta, 20 November 2019 – Film Plae Kao/The Scar (1977) karya Cherd Songsri menjadi pembuka film hasil pelestarian dan proses restorasi dalam program Layar Klasik. Tayang di Studio 5 Empire XXI Yogyakarta, Plae Kao (1977) memberikan pengalaman kepada para penonton untuk kembali ke masa lalu.

Program Layar Klasik di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) merupakan upaya JAFF dalam melestarikan dan mengenalkan film-film klasik Asia. Bekerja sama dengan Asian Film Archive, program ini dikurasi oleh Lisabona Rahman.  “Seperti kisah Siti Nurbaya bagi masyarakat Indonesia, Plae Kao adalah bentuk Siti Nurbaya untuk masyarakat Thailand. Benturan tradisi dengan modernitas akan mempengaruhi arus zaman, tidak luput juga pada film. Tradisi Asia yang begitu kental akan mendapatkan tantangan budaya baru. Inilah yang dapat ditemukan pada keempat film program Layar Klasik di JAFF 14 ‘Revival’.”, ujar Lisabona setelah penayangan Plae Kao (1977).

Plae Kao (1977) merupakan film sarat kultur dan tradisi yang pada periode 70-an menjadi salah satu dekade penting sejarah perfilman Thailand. Sepanjang 121 menit, cerita mengenai perjuangan Kwan disisipi identitas kultural Thailand yang kental, dari mulai tarian upacara adat pedesaan Bang Kapi, lagu-lagu daerah yang dinyanyikan oleh Kwan, peraturan adat istiadat yang ketat, praktik dukun pengobatan tradisional, hingga kepercayaan terhadap arwah-arwah leluhur.

Program Layar Klasik menayangkan karya film-film lama yang sulit untuk diakses. Bila pun masih ada, belum tentu masih dengan kualitas yang sama dan masih bisa ditonton secara utuh. Plae Kao/The Scar (1977) adalah salah satu dari keempat film yang ditayangkan dalam program Layar Klasik. Selain Plae Kao (1977), program ini menyajikan film Aladin (1953), Ugetsu Monogatari (1953), Surat untuk Bidadari (1994).