Yogyakarta, 22 November 2019 – Salah satu program unggulan yang termasuk dalam Special Event JAFF 14 ‘Revival’ adalah program kuliah umum atau Public Lecture. Tahun ini, program Public Lecture menawarkan sebuah program yang membahas dan menelisik lebih jauh peran wanita dalam perfilman dengan tajuk “Empowering Female Filmmakers within the Industry”. Program ini menghadirkan Kamila Andini (sutradara), Sekar Sari (aktor), Lulu Ratna (programmer festival film), dan dimoderatori oleh Lisabona Rahman (konsultan film). Public Lecture “Empowering Female Filmmakers within the Industry” dilangsungkan atas dukungan dari Pusbang Film Kemendikbud RI. 

Bertempat di gedung LPP Yogyakarta, Public Lecture “Empowering Female Filmmakers within the Industry” berlangsung pukul 10.00 WIB. Kelas ini berlangsung dengan pembahasan mengenai bagaimana ruang kerja perempuan di industri perfilman selama ini masih kurang diakui keberadaannya. Pada kenyataannya, perempuan bisa benar-benar multi-tasking dalam pekerjaan yang mereka lakukan. Beberapa pembicara sempat menyampaikan kekhawatiran mereka terhadap peran mereka sebagai wanita. “Setelah hamil dan punya anak, ternyata masih bisa bekerja dan berkarya. Jadi, jangan takut”, ujar Kamila Andini. 

Pembahasan mengenai ruang aman bagi para pembuat film perempuan juga bergulir. Ketika meninjau bagaimana kerja lapangan di industri perfilman, banyak hal yang mempengaruhi dan membatasi ruang-ruang tersebut bagi perempuan. Tidak adanya ruang aman yang menjamin keberadaan para pembuat film perempuan dan bagaimana rentannya mereka mendapat pelecehan atau kekerasan seksual menjadi pembahasan yang penting. Lisabona Rahman menekankan bahwa hal tersebut merupakan tugas semua elemen yang tergabung. “Kondisi ini harus kita sadari, apapun itu (bentuknya), kekerasan tetap tidak boleh terjadi. Ini tugas kita bersama”, ungkapnya. 

Program Public Lecture “Empowering Female Filmmakers within the Industry” juga kedatangan tamu spesial, Mira Lesmana (produser) sebagai pembicara tamu. Pada kesempatan ini, Mira Lesmana mengutarakan bagaimana kekuatan perempuan sangat diperlukan dalam industri perfilman. Apalagi, ia berasal dari sekolah film yang mayoritas diisi oleh laki-laki. Ia juga bercerita mengenai kekhawatirannya sebagai pembuat film perempuan dan seorang ibu. Baginya, ketika mendapatkan sentimen mengenai bagaimana kinerjanya sebagai seorang pembuat film perempuan dan seorang ibu, membuatnya menemukan kekuatan. “Bagi saya hal-hal itu malah berupa empowerment yang sesungguhnya”, ujarnya dengan bersemangat. 

Program ini dihadiri oleh 42 peserta yang berasal dari berbagai kalangan. Harapannya, program Public Lecture “Empowering Female Filmmakers within the Industry” dapat memberikan dampak positif mengenai bagaimana peran dan kekuatan wanita dalam industri kreatif khususnya perfilman Indonesia. (2019)