Yogyakarta, 20 November 2019 – JAFF kembali menyuguhkan jajaran film pendek dalam program Asian Perspectives. Program ini dibagi atas program Asian Perspectives Features; yang menayangkan film-film berdurasi lebih dari 60 menit, dan Asian Perspectives: Shorts; yang menayangkan film-film pendek. Jajaran film yang lolos proses kurasi dalam program ini merupakan film-film yang dirasa mampu mewakili wajah sinema Asia Pasifik sekarang.

Ditayangkan di Studio 2 Empire XXI Yogyakarta, program Asian Perspective Shorts menayangkan empat film yang ditutup dengan sesi diskusi. Pada kesempatan ini, ditayangkan film Adam (2019) karya Shoki Lin yang menggambarkan kehidupan keluarga yang sedang tidak baik-baik saja, dimana seringkali kita menemukan keluarga yang masih utuh bersama ataupun sudah berpisah satu sama lain. Kedua, film I Am Zal (2018) karya Hooman Naderi tentang bagaimana kita dapat melihat perspektif lain terkait isu perbedaan identitas dan kekerasan pada anak. Ketiga, film Sejauh Kumelangkah (2019) karya Ucu Agustin tentang kontrasnya kehidupan tunanetra di Indonesia dan Amerika Serikat. Keempat, film Tokyo Kurds (2018) karya Fumiari Hyuga tentang diskriminasi bagi komunitas Kurdish di Turki yang kemudian seluruh keluarga mereka pindah ke Jepang untuk menemukan rumah yang nyaman. Terakhir film kelima, City of Gold (2018) karya Jerell Serancio tentang perjuangan segerombol anak kecil yang hidup di daerah pertambangan.

Pada pemutaran Asian Perspectives Shorts ini, telah hadir sutradara dari Sejauh Kumelangkah, Ucu Agustin. Bercerita tentang proses pembuatan film yang terbagi dalam versi panjang hingga pendek karena kebutuhan festival. Lalu alasan mengapa ia mengambil isu tunanetra dari Indonesia dan Amerika Serikat. Serta masalah keuangan dalam pembuatan film ini.

“Masalahnya di Indonesia masih kurang menyoroti isu itu, baru-baru ini saja ada kebijakan tentang Disability Law di negara kita. Padahal jika dibandingkan di Amerika Serikat, mereka sudah berjalan hampir 30 tahun melalui kebijakan The Americans with Disabilities Act (ADA). Cerita yang simple dan sering dibicarakan di lingkungan tapi terabaikan,” jelas perempuan yang berlatar belakang seorang jurnalis ini.

Ragam ekologi, budaya, dan situasi sosial di Asia menjadi salah satu gagasan kelima film yang dirangkum dalam pemutaran Asian Perspectives: Shorts kali ini. Bisa dibilang hanya di ruang sinematografi, semua keberagaman yang ada dalam kehidupan masyarakat Asia mampu dihadirkan secara estetis. Terkait bagaimana penggambarannya tergantung bagaimana kita menganalogikan keberagaman tersebut.

Terhitung sebanyak 177 penonton yang berasal dari berbagai kota mengikuti mengikuti pemutaran ini. Salah satunya Ewit Rachim, penonton asal Jakarta yang baru pertama kali mengikuti dan menonton pemutaran film di JAFF. Ia merasa senang karena bisa menonton film-film dari program Asian Perspectives Short, salah satu film pendek yang ia suka adalah Sejauh Kumelangkah karya Ucu Agustin.

“Saya suka dengan film dari program ini, terlebih film karya mbak Ucu karena isunya relate banget dengan sistem pendidikan kita. Di Indonesia orang dengan disabilitas malah ga dapat perhatian lebih dan kurikulumnya tidak ramah dengan para disabilitas, berbeda dengan di Amerika mereka anak-anak tersebut didampingi hingga dua guru sekaligus yang membimbing,” jelas Ewit setelah pemutaran.

Rangkaian Jogja-NETPAC Asian Film Festival ‘Revival’ masih berlangsung hingga tanggal 23 November 2019 bertempat di Empire XXI Yogyakarta dan LPP Yogyakarta.