Yogyakarta, 28 November 2020 – Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) lahir dan dibesarkan oleh komunitas-komunitas film. Forum Komunitas dan Layar Komunitas telah menjadi program andalan dari tahun ke tahun. Pandemi yang belum usai membuat JAFF tidak dapat mengumpulkan teman-teman komunitas di berbagai daerah di Indonesia. Hal ini justru menjadi gagasan baru agar bagaimana komunitas-komunitas tetap bisa merayakan pergerakan sinema Asia tanpa perlu mengunjungi Kota Yogyakarta.

JAFF tahun ini mendelegasikan 15 komunitas untuk turut mengadakan JAFF di masing- masing kotanya. Penentuan 15 komunitas dan kota termasuk Yogyakarta berkaitan dengan usia JAFF yang telah berjalan selama 15 tahun. Komunitas film yang terpilih antara lain, Aceh Documentary, Rel Air Padang, Klub Nonton Lampung, Bandung Film Commission, Sinema Pantura Tegal, Basa Basi Production Jember, Cineclue Klungkung, Komunitas Sineas Muda Balikpapan, Rumata Art Space Makassar, Sinekoci Palu, Sumbawa Cinema Society, Ruang Tengah Kreatif Lombok Timur, Komunitas FIlm Kupang, dan Indonesia Art Movement Papua. “Harapan saya dengan tercetusnya 14 komunitas dan kota tadi itu, JAFF itu tidak kemana-kemana tetapi JAFF ada dimana-mana”, ungkap Arief Akhmad Yani selaku Community Forum Coordinator JAFF 15.

Pengadaan festival di 14 kota di berbagai wilayah Indonesia sebagai wujud balasan JAFF terhadap komunitas-komunitas yang selalu memeriahkan dan merayakan JAFF di Yogyakarta. Beberapa komunitas tersebut sudah pernah datang dan presentasi ke JAFF pada tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian ada komunitas film yang terhitung baru serta turut menjadi salah satu kota penyelenggara JAFF 15 ‘Kinetic’.

“Nah Klungkung ini lagi bergerak, saya mengikuti perkembangan komunitas mereka beberapa waktu ini yang begitu pesat. Saya ingin mencoba ketika JAFF Jogja dengan Bali ini bisa gak bersinergi. Ini eksperimen sebenarnya karena baru pertama kali, ternyata teman-teman di Klungkung begitu antusias ketika saya menunjuk mereka, walaupun mereka belum pernah presentasi kepada kita tentang komunitasnya”, ujarnya.

Antusias teman-teman komunitas juga terlihat bukan hanya saat penunjukkan saja tetapi pada pelaksanaanya pula. Bandung Film Commission misalnya, komunitas tersebut memberikan ruang bagi pemutaran film-film JAFF di Bioskop Majestic yang pernah memutarkan sinema Indonesia pertama berjudul Loetoeng Kasaroeng (1926). Respon masyarakat Bandung pun sangat positif terbukti dengan tingginya peminat meski seluruh slot pemutaran film sudah penuh.

Selain Bandung, apresiasi penonton juga ditunjukkan di kota-kota lain. “Euphoria masyarakat di Lombok Timur terkait JAFF sangat antusias sekali, dengan konsep JAFF yang ke-15 bisa menjadi momentum awal untuk meningkatkan gairah perfilman di Lombok Timur”, tutur perwakilan komunitas Ruang Tengah Kreatif Lombok Timur, Ahmada Siladandy.

JAFF termasuk festival film yang berani bangkit untuk tetap menyelenggarakan pemutaran sinema secara luring di tengah kondisi yang hampir tidak memungkinkan. Pemutaran di berbagai kota turut membantu anjuran pemerintah agar situasi tetap terkendali. Pemberian desinfektan dan penempatan hand sanitizer menjadi perhatian untuk tetap selalu menjaga kebersihan. Besar keinginan teman-teman komunitas agar seterusnya pemutaran film oleh JAFF dapat dilakukan di kota-kota selain Yogyakarta.

“Kedepannya, JAFF yang ke-15 tahun ini tidak hanya menjadi ajang selebrasi saja, tetapi JAFF di tahunnya yg ke 15 ini bisa menjadi momentum awal untuk menjadikan budaya nonton film di daerah itu meningkat. Sehingga film-film yang diproduksi oleh sineas lokal lebih mendapatkan apresiasi”, harap Ahmada. (2020)