Yogyakarta, 21 November 2019 – Di hari ketiganya, program Public Lecture kembali melanjutkan serangkaian kegiatan di JAFF 14 ‘Revival’. Bertajuk “Theme Discussion: 100 Years Bengali Cinema”, program Public Lecture ini diisi oleh Amitava Nag (penulis), Indrasis Acharya (sutradara), dan Mahfud Ikhwan (penulis) sebagai pembicara di LPP 1 Yogyakarta pada Kamis, 21 November 2019.

Menanggapi peringatan seratus tahun sinema Bengali, JAFF mengadakan kuliah umum khusus membahas hal tersebut. Mengacu pada industri sinema yang dikenal karena memproduksi banyak film paralel, peringatan ini merupakan momen yang penting untuk dirayakan.

Diawali oleh Amitava Nag yang menceritakan tentang sejarah budaya Bengali dan masuknya sinema ke Bengali dimulai tahun 1919, dimana ia juga menceritakan sedikit tentang sosok Hiralal Sen “Father Of Bengali”. Umumnya dianggap sebagai salah satu pembuat film pertama di India. Awalnya sinema ini didasarkan pada subjek mitologis. Kemudian film itu perlahan mulai membahas masalah rumah tangga setempat melalui akting melodramatik dan musik keras dengan aktivisme hiper adalah kerajinan utama pada saat itu.

Sesuai dengan tema Public Lecture kali ini, Amitava menambahkan tentang bagaimana sinema Bengali masih bisa bertahan dan maju di industri ini. “Kita (India) punya budaya yang kuat dan kita bisa beradaptasi serta mengkombinasikan segala sesuatu perubahan yang ada di industri sinema. Perubahan secara dinamis ini membuat bagaimana kamu harus mencari tahu bagaimana cara bertahan. Film festival adalah tempat yang benar bagi beberapa orang, karena bisa dijangkau untuk mengeksplorasi karya film. Itu juga adalah tempat untuk mencari investor pada project film,” tutur kritikus film sekaligus penulis asal India ini.

Melanjutkan pernyataan Amitava, Indrasis Acharya menjelaskan tentang perpindahan sinema Bengali setelah tahun 1955 ke arah yang berbeda, lebih neorealis. Melalui Pather Panchali dibuat oleh Satyajit Ray. Memasuki tahun 80an adalah periode sinema ini ke arah yang modern. “Perubahan yang signifikan terjadi, dimana banyak aktor maupun aktris yang ikonik mulai bermunculan, lalu penggunaan latar musik seperti disco sering digunakan dalam film,” tambahnya saat menjelaskan tentang dinamika sinema Bengali selama 100 tahun.

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan paparan ketiga dari Mahfud Ikhwan tentang pengalamannya mulai menyukai sinema Bengali. Sehingga ia mulai aktif menulis buku tentang film India dan ikut bergerak dalam komunitas pemutaran film India di Yogyakarta ini. Baginya sinema ini sangat realis, yang kemudian membuatnya mulai mencari buku tentang hal itu.

Mahfud juga menambahkan diakhir presentasinya bahwa ada tiga hal dari sinema Bengali yang sama dengan sinema Indonesia. Pertama, keterkaitan dengan budaya Bengali dan keseniannya yang bisa dibilang sama dengan budaya Indonesia. Kedua, banyak hal bersejarah yang kemudian bisa diangkat ke dalam film. Ketiga, latar cerita yang diambil.

Perlu diketahui beberapa pembuat filmnya mendapat perhatian di Indian National Film Awards serta mendapat pengakuan internasional.

Program Public Lecture ini membuka ruang diskusi antara khalayak umum dan pakarnya. Dimulai pukul 13:00 WIB, kuliah umum ini dimoderatori oleh Budi Irwanto, presiden festival JAFF 14 ‘Revival’. Sebanyak 48 orang diberikan pengalaman dan edukasi mengenai apa itu sinema Bengali dan proses sinema ini dalam industri film.