Yogyakarta, 22 November 2019 – Pada hari keempat, program Public Lecture kembali dengan tema “Make Your Film Within The Region!”. Pemilihan tema yang menekankan pada bagaimana proses membuat film dalam daerah. Pandangan tentang bagaimana sinema pada hari ini sangat luas tidak hanya berkutat pada sisi yang begitu sempit menjadi pembahasan. Pembuatan film secara kolektif sudah lebih nyata dari segala lini masyarakat tanpa terikat keterbatasan ruang dikupas secara mendalam.

Seminar ini diisi oleh pembicara-pembicara yang telah berpengalaman pada bidang produksi film. Ada Bianca Balbuena (produser), Nandita Solomon (sutradara), dan Ifa Isfansyah (sutradara) memberikan begitu banyak ilmu dan pengalaman mereka.  Program ini berlangsung di LPP 2 Yogyakarta pada Jumat (22/11), pukul 16.00.

Seminar ini diawali dengan cerita Nandita soal tantangan mendistribusikan film agar cinema-culture terbentuk. Di negara-negara asia tenggara, biasanya masalah sensorik menjadi penghalang saat film tersebut membahas isu-isu sensitif seperti identitas, agama, dan LGBT. “Kita punya common ground yang sama, yaitu sama-sama pernah dijajah. Maka dari itu, harus ada jembatan untuk menyambung antara isu-isu ini dengan pemerintah dan budaya menonton film,” katanya.

Bianca pun juga merasa film-film dari Asia Tenggara juga memiliki sense of activist, contohnya di Filipina yang banyak menyuarakan suara masyarakat yang terpolarisasi. Walaupun sedikit, namun kehadiran festival-festival film dianggap mampu memberikan ruang untuk menyuarakan suara-suara minoritas ini. “Ini juga mendorong kita untuk mengeksplor film dari latar belakang yang berbeda,” ujarnya.

Dalam konteks Indonesia, Ifa Isfansyah merasa distribusi pemutaran film tidak merata karena kurangnya produser di Indonesia. Di sistem kerja produksi film luar, tugas produser sebenarnya juga mempunyai peran untuk mendistribusikan film ke bioskop-bioskop. Namun, keberadaan bioskop pun 80% berada di Jawa, sehingga influence film tidak merata. “Padahal, membuat film kan tujuannya supaya pesan dari pembuat film tergaungkan, bukan semata mata soal keuntungan,” jelasnya.

Tanggapan pun muncul dari salah seorang peserta yang merasa terdampak dengan tidak adanya sistem distribusi film ini. Di daerahnya, Banyuwangi, sulit untuk menemukan dan menonton film-film yang memancing diskusi. Ifa pun menanggapi dengan berefleksi pada usaha JAFF menimbulkan cinema-culture di Yogyakarta. “Kita seringkali berfokus pada usaha membuat film, tapi upaya apresiasinya kurang. Sekarang lebih baik, banyak kelompok-kelompok kolektif yang concern dengan hal ini sehingga pemutaran film pun semakin sering,” jawabnya.

Public Lecture ini memberikan inspirasi bagi 42 peserta tentang pentingnya distribusi film yang lebih merata di Indonesia. JAFF 14 ‘Revival’ akan terus hadir, baik dalam bentuk screening dan edukasi tentang dunia perfilman sejak tanggal 19-23 November 2019.