Yogyakarta, 20 November 2019 – JAFF 14 ‘Revival’ mengadakan Seminar Film Horor sebagai rangkaian program Public Lecture yang diselenggarakan di LPP Yogyakarta. Seminar Film Horor diisi oleh sineas dan praktisi film yang kaliber di bidangnya. Public Lecture Seminar Film Horor diisi oleh  Joko Anwar (Sutradara), Christine Hakim (Aktris), Ekky Imanjaya (Peneliti), dan Ifan Ismail (Penulis Naskah).

Seminar Film Horor menitikberatkan topik proses dari awal hingga akhir pembuatan film horor. Mulai dari riset, pitching, produksi, hingga menerima respon timbal balik dari penonton. Diawali dengan memaparkan perjalanan film horor dari tahun ke tahun dalam negeri maupun luar negeri, Joko Anwar mengklasifikasi jenis-jenis film horor. “Horor itu tidak cuma hantu atau jump scare, ada science fiction horor, komedi horor, romantis horor, psychological horor, supernatural, ada juga film yang mengangkat kejahatan manusia di mana rasa cemas akan tindakan yang dilakukan menghantui dirinya sendiri”, ujar Joko. Ia juga menyampaikan bahwa dalam membuat karya layar audio visual horor, filmmaker harus paham mengenai sejarah horor dan ikut merasakan takut saat melakukan penulisan agar sesuai dengan ekspektasi penonton.

Christine Hakim mengakui bahwa peran yang ia ambil diwujudkan dengan cara melakukan apa yang sudah dituliskan oleh penulis naskah. Ketika ia memerankan salah satu tokoh di film Perempuan Tanah Jahanam (2019), ia mengaku tidak memakai logika dan nalar supaya yang ada dalam sinema tersebut hanya arahan dari sang sutradara, Joko Anwar. “Soalnya saya tidak mau berurusan dengan horor, nonton horor saja bisa dihitung menggunakan jari. Makanya saya percaya kan kepada Bang Joko”, ujar Christine menambahkan.

Ifan Ismail menyambung dengan diskusi tersebut dengan pernyataan bahwa ketika melakukan kurasi dan mencari film, ia mencari film yang memiliki kadar ketakutan yang sama dengan masyarakat. “Ini akan menjadikan film seperti nyata dan penonton pun ikut terteror”, ungkapnya. Sebagai programmer, Ifan sangat berharap akan muncul banyak bentuk baru dari horor yang menjalin ketakutan- ketakutan yang tak terduga atau malah tidak diakui.

Joko Anwar menutup Seminar Film Horor dengan pernyataan mengenai film horor yang baik adalah film yang tak berbatas. “Film horor yang baik bisa dipahami secara cross cultural walaupun terdapat batasan demografi”, tutup sutradara kelahiran tahun 1976 ini. Seminar Film Horor yang dimoderatori oleh sutradara Ismail Basbeth diikuti oleh 69 peserta dari berbagai kota di Indonesia hingga mancanegara seperti Malaysia dan Jepang.

Seluruh rangkaian kegiatan Public Lecture dapat diikuti secara gratis selama kegiatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival di LPP Yogyakarta dan Ballroom Hotel Horison. Program Public Lecture diharapkan dapat membuka ruang diskusi antara khalayak umum dengan para pakar yang berkompeten di bidangnya untuk membahas film dan aspek-aspek yang mengitarinya. Guna memberikan udara segar dan perspektif baru tentang industri perfilman Indonesia, Asia, hingga dunia.