Dahulu Saira dan Salim memiliki keluarga bahagia yang utuh, sekitar 17 tahun yang lalu. Sebuah insiden tragis mengguncang Gujarat, India, pada tahun 2002. Selama tiga hari, terjadi konfllik horisontal antar-umat beragama yang menyebabkan ratusan korban berjatuhan. Gesekan antar-umat mayoritas Hindu dan minoritas Muslim ini menorehkan sejarah kelam bagi seluruh negeri. Saira dan Salim adalah korban dari peristiwa memilukan tersebut. Dokumenter berdurasi 15 menit karya Eshwarya Grover ini merangkum napak tilas Saira dan Salim dalam mengangkat kembali masa lalu yang sudah mereka tutup dan tinggalkan.

Setelah belasan tahun meninggalkan rumah yang dulu memberikan beraneka kenangan indah, Saira dan Salim memutuskan untuk kembali sejenak. Serpihan puing dan reruntuhan menyambut mereka kembali. Sisa-sisa kepedihan terdengar dari lantunan perkataan mereka. Sepanjang film, tidak akan ada wujud Saira dan Salim. Namun eksistensi mereka dapat dirasakan sepanjang film, melalui narasi-narasi yang menuntun kita untuk ikut merasakan kepiluan itu. Potongan-potongan foto dan rekaman sekeliling rumah silih berganti mengikuti mereka bercerita. Dokumenter ini tidak sekadar mengaitkan kata narasumber dengan potongan film semata;  ada kaitan serius yang dipertimbangkan pada setiap pengambilan gambar. Membuai mata, namun memperdalam empati semakin lama penonton tenggelam mengikuti alur ceritanya.

Saira dan Salim secara detil mengungkapkan berbagai kenangan akan lingkungan yang membuat mereka hidup. Anak-anak kecil bermain mengitari rumah, ibu-ibu tiduran di serambi teras, dan warga yang berbincang di bawah pohon besar tengah perkampungan hanya sebagian dari berlapis kenangan yang terekam di benak mereka. Suara merdu azan masjid mengiringi kenangan-kenangan yang diangkat, menyisakan puing-puing kosong saat ini. Cahaya matahari menembus rumah-rumah sejenak memunculkan harapan bahwa lingkungan itu kelak akan hidup kembali. Suara Saira dan Salim semakin bergetar ketika mulai bercerita tentang anak kesayangan mereka. Kejadian yang menimpa anak muda yang begitu mencintai keluarganya tidak disangka akan membuat kedua orang tuanya meninggalkan rumah.  Tidak ada lagi kenangan indah yang bisa diukir, hanya serpihan kepahitan yang membekas dan tidak akan pernah dapat dihilangkan.

Memori masa lalu Saira dan Salim dapat ditonton dalam program Asian Perspectives: Shorts pada gelaran 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival ‘Revival’. (2019)

Ditulis oleh Titus Kurdho | Disunting oleh vanis