Tak hanya memutar film-film baik nasional maupun internasional, Jogja-NETPAC Film Festival 14 ‘Revival’ juga membuka berbagai workshop dan seminar seputar dunia perfilman. Salah satunya adalah Public Lecture bertajuk “Make Your First Feature Film Comes True!”. Diadakan di LPP Yogyakarta pada Jumat (22/11), kuliah umum ini diisi oleh tiga narasumber yang dianggap sudah cukup berdinamika dalam dunia sinema nasional maupun internasional. Ada Kamila Andini, Raymond Phathanavirangoon, Makbul Mubarak serta dimoderatori oleh Yusuf Radjamuda.

Pada jam 13.00, kuliah dibuka oleh Raymond yang bercerita tentang jalan ideal untuk menjadi filmmaker, mulai dari mencoba membuat short-film, mengikuti kuliah tentang film, hingga mengikuti festival-festival. “Jika kamu membuat film pendek untuk pertama kalinya, kamu akan gagal. Tapi itulah hal bagusnya, kamu jadi tahu ingin jadi director seperti apa,” pesannya.

Lewat program ini, Raymond memperkenalkan festival-festival dan residensi internasional untuk meningkatkan kemampuan filmmaker dalam produksi film. Mulai dari Busan Film Festival, Sundance Film Festival, SEAFIC, Locarno Film Academy, dan Torino Film Lab.

Kamila Andini pun melanjutkan bercerita tentang pengalamannya saat residensi di Cine Foundation, Paris selama 5 bulan di Perancis. Disana, dia merasa diberi waktu untuk menulis dan memikirkan filmnya. selain itu, dia juga merasa mendapat akses di Cinema-tech untuk menonton dan melakukan riset. Selain itu, dia juga memberikan tips untuk melakukan pemetaan dan rajin main ke festival-festival film. “Mau punya film, mau tidak, pergi saja ke festival untuk memperluas jaringan,” ujarnya.

Makbul Mubarak menambahkan, Indonesia diuntungkan dengan adanya BEKRAF yang bekerjasama dengan Torino Film Lab. Setiap tahun, Torino mengambil dua orang filmmaker Indonesia untuk belajar membuat film lebih lanjut. Makbul sendiri berpendapat, membawa dan mempresentasikan Indonesia di luar negeri, terutama ke orang-orang yang tidak tahu Indonesia di kelas script lab. “Saat mereka bertanya, itu juga sekaligus memperjelas kita yang membuat. Proses script lab itu prosesnya berliku yang berakhir pada kejernihan gagasan,” katanya.

Ketiga narasumber tersebut hadir dan bercerita di depan 64 orang peserta mengenai pengalaman mereka membuat film pertamanya. Salah satu pertanyaan muncul dari Taufik asal Lombok yang meminta saran bagaimana filmmaker daerah bisa dikenal. Makbul pun menjawab dengan menegaskan bahwa visi membuat film itu datang dari kita sendiri, jadi jangan takut. Kamila pun meyakinkan bahwa membuat film berawal dari hal kecil yang dilakukan berulang-ulang sebelum akhirnya bisa sukses di dunia perfilman.

Tak hanya program ini, masih banyak workshop yang JAFF 14 ‘Revival’ tawarkan pada masyarakat umum untuk mengetahui dinamika dalam dunia perfilman. Sesi public lecture dan lokakarya diadakan di LPP Yogyakarta dari tanggal 19-23 November 2019.