Yogyakarta, 22 November 2019 – Setelah berjalan-jalan ke lebih dari lima belas festival film internasional, The Science of Fictions (2019) diputar secara perdana di Indonesia pada kesempatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 14 ‘Revival’. Pemutaran film The Science of Fictions (2019) karya Yosep Anggi Noen pada hari Jumat (22/11) pada pukul 10 pagi dan diakhiri dengan sesi tanya jawab bersama Yosep Anggi Noen (sutradara), Gunawan Maryanto (aktor), Arya Sweta (produser), dan Marissa Anita (aktor). Film ini merupakan salah satu dari beberapa film terbaik dalam program Asian Features. Program Asian Features merupakan program kompetisi memperebutkan Golden & Silver Hanoman Awards.

Penayangan film The Science of Fictions di studio 1 Empire XXI pada gelaran JAFF 14 ‘Revival’ berhasil mengundang animo masyarakat yang sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan penuhnya studio yang berisi 293 penonton. Salah satu penonton bernama Dedi asal Bekasi mengatakan bahwa film ini sukses membuatnya merinding dan bahkan ia tidak sabar untuk bisa menonton lagi film ini lagi. “The Science of Fictions berjalan sangat lambat dan ini membuat saya merinding dan penasaran, rasanya nggak sabar buat nonton film ini lagi agar semakin paham dengan maksud dari film ini”, ujarnya.

Sesuai dengan tujuan program Asian Features, semakin berkembangnya film Asia Pasifik penonton juga harus sadar bahwa film menjadi dekat dan relevan dengan kehidupan orang Asia sendiri sangatlah penting. Di samping sebatas tontonan film-film ini juga dapat memberikan irisan budaya dan memberikan pengalaman pengetahuan lain untuk memahami Asia dan Pasifik melalui film itu sendiri. Salah satunya adalah tentang bagaimana kuasa dapat mengaburkan fakta dan sejarah berevolusi menjadi cerita fiksi hadir dalam The Science of Fictions (2019). Film ini menggambarkan bagaimana manusia menjadi korban dari masa lalu yang kejam dan masa kini yang eksploitatif. Berbicara mengenai masa lalu, memori mengambil andil yang penting dalam merekam kejadian-kejadian yang terjadi dalam kehidupan. Pada sesi tanya jawab, Yosep Anggi Noen mengatakan bahwa film ini berbicara tentang banyak hal seperti teknologi, trauma dan memori. “Peristiwa dan adegan dalam film ini tidak diupayakan menjadi terikat dengan alur kronologis, memori tidak ada kaitannya dengan kronologi karena memori terkait dengan emosi. Memori sangat dekat dengan kehidupan kita karena ia bisa terbentuk dimana saja dan kapan saja. Film ini bercerita tentang kebangkitan-kebangkitan memori yang sangat acak.”, ungkapnya.

Film berdurasi 106 menit ini bercerita tentang Siman (Gunawan Maryanto), seorang pemuda desa di Parangtritis, Yogyakarta, yang melihat beberapa orang asing berakting sebagai astronot yang sedang mendarat di bulan, dengan pesawat luar angkasa dan tanah bulan yang ternyata hanyalah rekaan. Dia  pun akhirnya ditangkap dan lidahnya dipotong agar dia tidak bisa menceritakan kepada orang lain. Siman pulang dengan berdarah-darah, terancam bisu untuk selamanya. Saat memerankan Siman, Gunawan Maryanto diberi kepercayaan penuh dari Yosep Anggi Noen. “Sebagai Siman, saya berusaha untuk menubuhkan Siman melalui bahasa tubuh sebagai satu-satunya cara Siman berdialog dengan dunianya”, ujar Gunawan Maryanto. Sebagai seorang aktor kawakan yang telah lama menggeluti dunia teater, Gunawan Maryanto dengan luwes berhasil memerankan tokoh Siman karena menurutnya ia merasa tidak jauh berbeda saat ia berteater.

The Science of Fictions (2019) adalah upaya untuk merayakan setengah abad sebuah ‘sejarah’. Bagaimana sebuah ‘berita palsu’ memberi dampak yang begitu besar pada masyarakat. Penayangan film ini di berbagai festival pada 2019 juga menandai 50 tahun usia berita pendaratan manusia pertama di bulan. Kendati berita palsu tengah ramai menjadi fenomena yang tak dapat terhindarkan pada masa kini, sebenarnya lebih dari setengah abad yang lalu pun ‘berita palsu’ itu sudah berdampak sangat besar pada masyarakat. The Science of Fictions (2019) akan ditayangkan secara umum di bioskop pada tahun 2020.