Liway adalah film independen Filipina tahun 2018 tentang pengalaman nyata sang sutradara, Kip Oebanda. Dakip -begitu panggilan masa kecilnya- tumbuh di penjara sebagai putra pembangkang anti kediktatoran Marcos. Film ini berfokus pada bagaimana cara seorang ibu yang berusaha membesarkan anaknya senormal mungkin di dalam sebuah kamp penjara Delgado; sebuah penjara sementara di dalam kamp militer yang diperuntukkan bagi pemberontak dan penjahat. Day atau Cecilia Flores-Oebanda, mantan Komandan Oposisi yang dikenal sebagai Komandan Liway dan Ric atau Ricardo Junior, Komandan Toto, mencoba membesarkan putra mereka, Dakip yang berusia 10 tahun dan bayi perempuan mereka Malaya. Keduanya lahir di tahanan dan belum pernah melihat bagian luar kamp.

Dakip adalah satu dari sekian anak pemberontak diktator Marcos yang hidup dan tumbuh di dalam penjara tanpa pernah tahu tentang dunia di luar. Melihat hal tersebut, Day, sang ibu, menceritakan salah satu kisah ini adalah tentang Liway kepada Dakip anaknya. Liway diceritakan sebagai seorang penjaga Gunung Kanlaon, versi fiksi dari kisahnya sendiri dalam perlawanan terhadap kediktatoran Marcos. Film garapan Kip Oebanda menggunakan cerita dan lagu, untuk menemukan kegembiraan, bahkan dalam kehidupan mereka yang sulit di kamp Delgado. Mengarahkan film tentang bagaimana cara dirinya memandang dan bereaksi terhadap peraturan penjara, kesempatan dia keluar dan berbicara kepada orang-orang, dan kesadaran tentang siapa sebenarnya kedua orangtuanya. 

Karya Kip ini begitu menyentuh dan menggugah secara emosional. Tetapi yang paling penting, film ini merupakan bentuk gambaran situasi di masa kediktatoran Marcos yang begitu kejam dan menderita. Sehingga film ini dianggap sensitif secara politis dan syarat akan “kiri”, karena tokoh protagonis dewasa dalam cerita itu adalah bagian dari Tentara Rakyat Baru. Ini adalah upaya berani untuk membangkitkan patriotisme di antara para pemberontak melalui bagian-bagian yang ada di film. Berdurasikan 107 menit, film ini menghasilkan alur yang indah dan tersusun rapi. Film ini adalah bentuk dari emosi dan kerendahan hati yang secara intuitif ditempatkan untuk mencapai klimaks yang mencengkeram. Masuk kedalam Special Jury Citations and Audience Choice Award, 2018 Cinemalaya, film Liway pun bisa dinikmati dalam program Asian Perspectives – Features pada perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke 14 di XXI Empire Yogyakarta. (2019)

Ditulis oleh Dwi Atika N | Disunting oleh vanis