White Building adalah sebuah kompleks apartemen di Phnom Penh, Kamboja, yang telah berdiri sejak tahun 1960-an. Sejarah panjangnya dimulai pada masa pemerintahan Khmer Merah, partai komunis Kamboja pimpinan Pol Pot. Kondisi negara tidak menentu dampak perang Vietnam kedua dan kekejaman rezim Khmer merah. Setelah masa pemerintahan Khmer merah berakhir, banyak pelarian memutuskan berlindung di White Building sampai akhir hayatnya. Keturunannya kini masih ada dan bertempat tinggal bangunan putih berpenghuni sekitar 2500 orang dan 500 kepala keluarga ini. Berbagai peristiwa terjadi sejak masa kegelapan Kamboja. Semua dihadapi bersama-sama oleh para penghuni White Building. “Musuh” paling terbaru mereka adalah gencarnya kebijakan pembangunan. Kapitalismelah yang ternyata berhasil mengakhiri hidup mereka. Film ini mengabadikan detik-detik terakhir sebelum bangunan bersejarah ini dirubuhkan.

Dokumenter menjadi salah satu sarana tepat untuk menjabarkan secara jujur suatu peristiwa sosial. Apabila dikemas secara benar, informasi berbagai narasumber dapat membentuk fondasi dokumenter lebih kredibel. Fakta-fakta dari beragam sudut pandang hingga laku hidup mereka keseharian akan saling mengisi satu dengan yang lain. Last Night I Saw You Smilling berhasil menyuguhkan itu semua. Tumbuh dan besar di situ, tentu membuat Kavich Neang, sutradara dan sinematografer Last Night I Saw You Smilling memiliki kedekatan yang mendalam kepada apartemen itu. Pada suatu sesi wawancara, ia pernah berujar bahwa ia ingin sekali mengangkat White Building menjadi latar salah satu filmnya. Tak disangka, justru momen-momen terakhir tempat bertumbuh dirinya dan keluarganya, berhasil mewujudkan keinginan terpendamnya tersebut.

Kedekatan Kavich dengan para penghuni sepertinya menjadi salah satu alasan dirinya berhasil mengupas respon dan ekspresi semua narasumbernya. Tanya jawab mengalir dengan akrab, membuat dokumenter ini tidak monoton. Satu persatu ikatan masing-masing penghuni dengan beragam kenangan terhadap hunian tercinta ini diulik secara mendalam. Jatuh bangun mereka dalam menjalani hidup terlukis dengan permanen pada setiap dinding-dinding kamar. Celah-celah kecil pintu dan jendela menyuarakan kebahagiaan dan harapan mereka. Namun pada akhirnya, film ini berkisah tentang kepasrahan, keikhlasan, dan kehilangan mengisi setiap lorong banguan, pada setiap raut muka para penghuni. Senyum sapa tetangga saling meneguhkan keyakinan mereka untuk terus melangkah di tempat yang baru, berpisah dengan satu sama lain setelah hidup bersama puluhan tahun dalam satu atap. Nyanyian getir salah satu penghuni akan mengiringi penonton tenggelam pada setiap kenangan yang melekat pada setiap sudut bangunan apartemen yang membisikan ucapan selamat tinggal. 

Dokumenter jujur dan menyentuh ini bisa ditonton pada program Asian Feature yang memperebutkan penghargaan Golden & Silver Hanoman Awards pada perhelatan 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival ‘Revival’.

 

Ditulis oleh Titus Kurdho | Disunting oleh vanis