Lakbayan (2018) adalah sebuah film antologi karya tiga sutradara independen kenamaan Filipina; Lav Diaz, Brillante Ma Mendoza, dan Kidlat Tahimik. Masing-masing menyuguhkan film pendek yang berbeda meskipun dengan tema yang sama, yaitu lakbayan yang dapat diterjemahkan sebagai journey atau ‘perjalanan’; Lav Diaz dengan “Hugaw” (Dirt), Brillante Ma Mendoza dengan “Desfocado” (Defocused), dan Kidlat Tahimik dengan “Lakaran ni Kabunyan”.

Film pertama, “Hugaw”, bercerita tentang tiga buruh yang melakukan perjalanan keluar dari area perusahaan tambang, naik sampan dari pulau ke pulau, menyusuri tanah lapang berumput dan bukit-bukit, menyeberangi sungai, hingga bermalam di hutan. Tujuan mereka adalah pulang dengan membawa sesuatu sebagai oleh-oleh untuk keluarganya, tetapi di pertengahan jalan, terjadi keributan di antara ketiganya. Segmen ini menyajikan ciri khas dari sang sutradara, yaitu gerakan film yang lambat dan minim dialog, yang membuat film ini terkesan sunyi. Dengan pewarnaan film yang hitam putih dan penuh dengan pengambilan gambar long shot, film ini bukannya membosankan dan membuat lelah, tetapi justru memanjakan mata karena banyak menyuguhkan detail-detail gambar yang terkesan natural.

Berbeda dengan film kedua, “Desfocado”, yang tampil lebih realis dan terkesan sebagai film dokudrama—film ini berupaya mereka ulang kejadian nyata di Filipina pada tahun 2007 yang dibalut kisah fiksi seseorang yang merekamnya. Film ini berkisah tentang seorang kamerawan, Jose (Joem Bascon), yang sehari sebelum dipecat dari stasiun TV tempat dia bekerja mempunyai ide untuk merekam long march para demonstran, petani Sumilao, yang memperjuangkan 144 hektare lahan mereka. Jose mengikuti 55 demonstran yang melakukan perjalanan sejauh 1.700 km dari Bukidnon ke Manila dengan berjalan kaki selama hampir dua bulan lamanya. Tujuan Jose adalah menjual hasil rekamannya ke stasiun televisi sembari ikut menyuarakan para kaum tertindas itu. Dalam segmen ini, kita akan tergugah dengan suasana dramatis para demonstran dan rasa simpati dari Jose. Segmen ini memang ditujukan untuk mengktritik pemerintah Filipina yang dinilai belum selesai mengurusi masalah agraria negaranya.

Hal itu sangat berbeda dengan film ketiga atau segmen terakhir, “Lakaran ni Kabunyan” yang tampil lebih ringan dan terkesan sebagai film dokumenter wisata. Film ini bercerita tentang putra dari sutradara Kidlat Tahimik, yaitu Kabayan, yang pindah dari kampung halamannya di Baguio ke kota metropolitan di Davao dengan berkendara menggunakan camper van oranye. Jarak yang jauh dan harus menyeberangi pulau demi pulau membuat Kabunyan punya banyak waktu untuk singgah sementara di beberapa lokasi wisata di Filipina sebelum sampai ke tempat tujuannya. Melalui film ini kita dapat menyelisik beberapa ritual dan tempat-tempat seni di Filipina. Kendati terkesan sebagai dokumenter wisata yang menyenangkan, film ini juga banyak berbicara tentang sejarah Filipina yang kadang satiris.

Seperti halnya perjalanan, berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, film ini pun berpindah genre dari film satu ke film yang lainnya; berpindah gaya dari sutradara satu ke sutradara yang lainnya; dan berpindah makna dari makna ‘lakbayan’ di film satu ke film yang lainnya. Film ini dapat dijadikan sebagai ajang merayakan kekayaan sinema Filipina. Lakbayan akan ditayangkan di 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival “Revival” pada program Asian Perspectives – Features. (2019)

 

Ditulis oleh Achmad Muchtar | Disunting oleh vanis