Yogyakarta, 2 November 2019 – Open Air Cinema sebagai salah satu rangkaian Jogja – NETPAC Asian Film Festival (JAFF) kembali digelar di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Sejak diinisiasikan pada 2006, Open Air Cinema mencoba mendekatkan sinema kepada masyarakat yang memiliki akses terbatas ke bioskop konvensional. Pada penyelenggaraannya yang ke-14 tahun, Open Air Cinema terbagi dalam dua kategori, yakni Open Air Cinema pra-event dan selama event. Open Air Cinema pra-event dilaksanakan dalam dua seri yakni tanggal 2 dan 9 November 2019, sedangkan saat event dilaksanakan pada tanggal 19 – 23 November 2019.

Pra-event Open Air Cinema seri pertama diadakan di Dataran 3, Sendangarum, Minggir, Sleman. Film Kentut (2019) oleh Rangga Kusmalendra menjadi suguhan pembuka acara Open Air Cinema kali ini. Rangkaian pemutaran film kemudian diiringi dengan film TV Hanyar (2018) oleh Syarwani Muhammad, Bacakut Pandir (2019) oleh M. Rizal, Nogi 1957 – Hunian Puisi dan Perempuan (2019) oleh  Ade Triyan, dan ditutup oleh Empu (2019) oleh Harvan Agustriansyah. Pemilihan jajaran film tersebut didasari oleh topik-topik yang dekat dengan kehidupan bermasyarakat. Film-film pilihan yang ditayangkan di Open Air Cinema membawa topik mengenai relasi sosial, keluarga, dan intra-personal.

 

Still Photo Empu (2019) – Harvan Agustriansyah; salah satu film yang ditayangkan dalam Open Air Cinema I

 

Acara dimulai tepat pukul 19.30 WIB, diawali dengan sambutan oleh koordinator Open Air Cinema, Christine Subiyanto. Selain untuk menumbuhkan budaya menonton film, awalnya kegiatan Open Air Cinema digelar sebagai salah satu alternatif trauma healing masyarakat Yogyakarta atas duka gempa yang terjadi pada tahun 2006 silam. “Kegiatan ini diinisiasi untuk membangkitkan kembali semangat masyarakat akan gempa Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2006.”, ungkap Christine.

Setelah pemutaran film, dilakukan sesi diskusi dengan beberapa perwakilan pembuat film yang ditayangkan di Open Air Cinema. Film Kentut yang memiliki pesan besar mengenai persekusi dan tindakan tanpa konfirmasi kebenaran dapat dikemas secara sederhana dan menghadirkan gelak tawa para penonton. “Idenya dari pengalaman sutradara sendiri karena di Indonesia terkenal dengan kebiasaan menuduh atau persekusi yang belum tentu benar adanya,” ungkap Daud selaku perwakilan dari Film Kentut. Selain itu, sutradara dari film Nogi 1957- Hunian Puisi dan Prempuan (2019), Ade Triyan juga hadir dalam menyampaikan ide filmnya serta memberikan pesan bagi masyarakat yang ingin menjadi filmmaker. “Jadilah diri sendiri, terus memotivasi diri sendiri lewat kesederhanaan dan tetap bermanfaat bagi disekitar kita,” pungkasnya.

 

Sambutan dari M. Suparno, Ketua RW 07 Sendangarum

 

Meskipun awalnya disambut dengan rintik hujan, semangat para penonton tidak terpatahkan. Antusias masyarakat begitu besar dengan adanya 350 orang yang memadati Lapangan Voli Dataran 3, Sendangarum. “Harapannya, apa yg dilakukan adik-adik (panitia JAFF 14 ‘Revival’) dapat memberikan motivasi dan pendidikan film kepada masyarakat untuk memajukan perfilman di Indonesia.”, tutur Bapak M. Suparno selaku Ketua RW 07 Sendangarum.

Tidak berakhir sampai di sini, Open Air Cinema dalam rangka pra-event masih akan dilaksanakan pada tanggal 9 November 2019 mendatang bertempat di Joglo Bebana, Gang Pangkur, Jogonalan Lor RT 4, Tirtonirmolo, Bantul. Open Air Cinema seri kedua akan menayangkan film Ranam – Looking For Land (2019) karya David Richard dan Doremi & You (2019) karya BW Purbanegara. (2019)