Yogyakarta, 21 November 2019 – JAFF kembali menghadirkan sinema Jepang melalui program Special Event: Japan Cinema Continuous. Program ini merupakan rangkaian dari Japan Film Festival yang merupakan festival film yang digagas oleh Asia Center Japan Foundation yang dilangsungkan di beberapa kota di Indonesia. Salah satu film yang ditayangkan dalam program ini adalah Angel Sign (2019), sebuah film omnibus yang disutradarai oleh enam sutradara lintas negara.

Berdurasi 105 menit, film ini dibagi menjadi enam kompilasi film pendek yang saling berkesinambungan. Pertama Tsukasa Hojo menjadi sutradara utama yang juga seorang Mangaka atau pembuat komik Jepang terkenal dengan seri manga City Hunter miliknya. Telah akrab dengan kinerja belantika anime dan Angel Sign menjadi karya live-action pertamanya.

Sebagai sutradara utama, Tsukasa mengatur prolog dan epilog Angel Sign, tentang kehilangan seorang musisi yang menghubungkan kelima potongan segmen tersebut menjadi satu kesinambungan yang menyayat. Kompilasi tersebut terdiri dari Beginning and Farewell karya Ken Ochiai (Japan) yang menceritakan kisah masinis dan anjing kesayangannya, berharap mengulang kembali kenangan dan tingkah laku lucu anjing kecil. Sky Sky disutradarai Nonzee Nimibutr (Thailand), bercerita tentang seorang gadis kecil juga dengan anjing kesayangan dan memoles rasa sayang gadis kecil menjadi lebih personal dengan anjingnya. Thirty and A Half Minutes disutradarai Ham Tran (Vietnam) menceritakan proses kehamilan bayi, dimana pergulatan calon ibu dan ayah mencegah kehilangan bakal anak karena Grim Reaper, sosok yang lekat dengan kehilangan dan kematian. Father’s Gift oleh Masatsugu Asahi (Japan) berkisah tentang hadiah robot dari ayah untuk anak perempuannya untuk menggantikan sosok ibu. Back Home karya Kamila Andini (Indonesia) yang bercerita tentang janji seorang ayah kepada anak perempuannya untuk pulang ke rumah dari medan perang.

Film ini dibuat tanpa dialog dan hanya diselingi dengan aransemen musik Angel Sign. Sehingga bisa merefleksikan ingatan, menembus kultur, bahasa, dan latar yang beragam. Pemilihan konsep tersebut dikarenakan filmmaker-filmmaker ini dipilih untuk membuat sebuah film dari kumpulan komik bisu, tanpa dialog dari perlombaan Silent Manga Audition (SMA). Cerita-cerita tersebut dipilih dari ribuan komik yang mengikuti perlombaan, “Ada sejumlah 6.888 peserta yang mengikuti perlombaan SMA dari seluruh penjuru dunia, dari Indonesia sendiri ada hingga 1.200 manga yang masuk. Lima manga terbaik menjuarai ini. Kemudian kami ingin membuat sebuah film, juga dengan gaya bisu, namun dengan aransemen musik terbaik dan sutradara yang cocok membuat film seperti ini. Salah satunya adalah Kamila Andini dari Indonesia.”, jelas Yusei Kato, produser film Angel Sign.

Kamila Andini juga berbagi pengalamannya ketika pertama kali diajak dalam project Angel Sign. “Saat itu pada akhir tahun 2017 setelah menayangkan Sekala Niskala di sebuah festival film di Tokyo, saya didatangi oleh beberapa orang dari sebuah perusahaan pembuat komik bisu (Silent Manga). Awalnya saya kira bercanda karena masih belum tahu ada perusahaan seperti itu. Eh ternyata serius, kami bertemu di Jakarta, kemudian saya pun menyetujui untuk ikut dalam project tersebut.”, ungkap Kamila.

“Ketika membaca cerita manga tersebut, kreatornya adalah Vu Dinh Lan dari Vietnam. Setting-nya tentang kerinduan seorang prajurit Vietnam kepada anaknya. Saya tidak merasa relevan dengan cerita itu. Kemudian saya pun meminta izin untuk mengubahnya sesuai dengan perspektif saya, dan akhirnya jadilah bagian film Back Home dalam omnibus Angel Sign.” tambah Kamila Andini secara rinci.

Film Angel Sign yang ditonton 87 orang di Studio 1 Empire XXI Yogyakarta bisa membangun emosi penonton ketika mereka menontonnya. Seperti yang diungkapkan salah satu penonton, Wulan, mahasiswi asal Surakarta, “unik ya penceritaannya, tanpa dialog seperti itu. Terus salah satu segmen film pendeknya juga berhasil memikat hati saya. Tentang masinis yang merindukan istrinya itu. Warna scene-nya bagus banget.”

Program Japan Cinema Continuous digelar dengan harapan agar masyarakat di Indonesia khususnya Yogyakarta, dapat merasakan dan menikmati budaya Jepang melalui karya sinema yang penuh dengan ragam. Rangkaian program Japan Cinema Continuous masih akan terus berlanjut sampai hari Sabtu, 23 November 2019 di Empire XXI Yogyakarta.