Riri Riza dan Mira Lesmana menapakkan kaki mereka lebih jauh lagi untuk mengeksplor Indonesia dalam dunia perfilman nasional. Setelah Laskar Pelangi (2008) di Pulau Belitung, Atambua 39 Celcius (2012), Sokola Rimba (2013) di Sungai Makekal, Jambi, kini Sumba dikulik secara mendalam oleh mereka. Lewat film yang diberi judul Humba Dreams (2019), duo sutradara-produser ini menampilkan problematika masyarakat Sumba yang cukup kompleks. Humba sendiri adalah nama lokal dari Sumba, pulau yang terletak di Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Selama ini, Sumba hanya dikenal dengan eksotisme alamnya dan menjadi salah satu destinasi pariwisata terkenal.

Film berdurasi 79 menit ini dimulai dengan memperkenalkan Martin, seorang mahasiswa yang bercita-cita menjadi seorang sutradara. Dia harus kembali pulang ke Waingapu, Sumba Timur dan meninggalkan tugas-tugasnya di Jakarta karena harus menjalankan tradisi di rumahnya. Sebagai anak lelaki tertua, Martin harus menjalankan dan mengurus hal-hal yang berkaitan dengan wasiat ayahnya. Sosok yang belum dikubur dan terduduk di ruang tamu rumah itu meninggalkan sebuah kotak berisi roll film. Martin pun dituntut untuk membuka isinya untuk bersama-sama ditonton dengan warga lain. Seiring perjalannya mencoba mencari cara mencuci roll film tersebut, Martin pun bertemu dengan orang-orang dan kisah-kisah tentang Sumba dari sisi yang berbeda.

Humba Dreams (2019) menyoroti isu-isu sosial masyarakat Sumba yang masih mengikat hingga saat ini. Mulai dari kegelisahan anak muda Sumba sendiri, kemiskinan, marginalisasi perempuan, hingga soal pekerja imigran. Martin sendiri merepresentasikan kegalauan anak muda Sumba yang ingin sekolah atau bekerja di luar, namun terkekang oleh tanggung jawab tradisi Marapu. Permasalahan sosial bukan hanya terepresentasi dari percakapan antar tokoh, tapi juga komposisi pemeran, gambar dan narasi-narasi yang ditawarkan. 

Kompleksitas yang disajikan oleh Miles Film membuatnya berbeda dari film komersial yang biasa disajikan di bioskop. Perlu keinginan dan pengetahuan tentang Sumba untuk bisa menginterpretasi jalan ceritanya. Namun, film ini pun menjadi ‘penyegar’ di tengah arus film yang kebanyakan mengambil setting di pulau Jawa dan soal cinta-cintaan. Humba Dreams akan “menggoda” untuk mengeksplor lagi tentang Sumba dan wilayah Indonesia Timur lainnya.

Dua tahun lalu, film ini sudah berlenggang ke luar negeri dan memenangkan CJ Entertaiment Award di Busan International Asian Project Market 2017. Premiere screening Humba Dreams juga bukan di Indonesia, melainkan di Shanghai International Film Festival 2019. Setelah melanglang buana ke festival internasional, Humba Dreams (2019) akhirnya pulang ke Indonesia dalam ajang JAFF – Indonesia Screen Awards di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 14 ‘Revival’. (2019)

 

Ditulis oleh Dwi Atika N | Disunting oleh vanis