Yogyakarta, 20 November 2019 – Gundala (2019) karya Joko Anwar menjadi pembuka film dalam program JAFF Indonesia Screen Awards (ISA) di perhelatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival tahun ini. Film ini banyak mendapatkan apresiasi dari para kritikus film hingga festival film internasional. Sebelum ditayangkan di JAFF 14 ‘Revival’, Gundala (2019) ditayangkan secara reguler dan sempat ditayangkan secara perdana dalam kancah internasional di Toronto International Film Festival. 

Program JAFF ISA adalah program kompetisi film yang paling muda dibandingkan dengan program kompetisi lainnya. Setelah bertransformasi dari program sebelumnya, yaitu The Faces of Indonesian Cinema Today, program ini terus menjaga konsistensinya untuk mencatat perkembangan sinema Indonesia dengan perspektif yang berbeda. Gundala (2019) bersama lima film lain akan bersaing memperebutkan beberapa penghargaan dalam program JAFF ISA, antara lain, film terbaik, sutradara terbaik, penulis naskah terbaik, pemeran terbaik, dan sinematografi terbaik. Film-film dari program ini akan dibaca dan dinilai oleh jajaran juri yang merupakan pelaku dan pengamat film dari luar Indonesia yang memiliki perhatian khusus pada perkembangan sinema Indonesia. Adapun juri pada program JAFF ISA, antara lain, Wang Fang (programmer Shanghai International Film Festival dan pendiri Institute of World Film di Shanghai Normal University), David Hanan (peneliti film dan penggagas Jurusan Studi Film Monash University), dan Park Sun Young (peneliti dan programmer Busan International Film Festival). 

Pemutaran Gundala (2019) dihadiri oleh 197 orang dan ditutup dengan sesi tanya jawab. Sesi tanya jawab diisi oleh Joko Anwar (Sutradara), Ical Tanjung (Sinematografer), dan Marissa Anita (Pemeran Ibu Sancaka). Dalam membuat Gundala, Joko Anwar coba membuat film superhero yang berbeda dari biasanya, “Saya membuat Gundala sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada, secara relevan. Banyak yang mengeluh dengan pace dan editing yang cepat. Tetapi sesuai latarnya, Jakarta juga begitu cepat arus kehidupannya. Saya mengaplikasikan itu ke dalam Gundala.”, 

“Ada beberapa fase perkembangan dari Sancaka kecil hingga saat dewasa menjadi Gundala. Dari warna hingga emosi setiap shot-nya akan berbeda sesuai itu.” ungkap Ical Tanjung ketika berbagi tentang proses pengambilan gambar.

Berikutnya, Marissa Anita bercerita tentang totalitas perannya, “saya sangat merasa terbantu dalam mendalami karakter ibu Sancaka. Joko (Anwar) membuat setting tempat senatural mungkin. Misalnya ketika mencari bapak (diperankan Rio Dewanto) di pabrik. Itu benar-benar panas dan gersang tempatnya, saya bisa langsung berakting gelisah secara total.” 

Joko Anwar mengakhiri sesi tanya jawab dengan ciri khas menyindir jahilnya, “hampir belum ada yang seperti Ridwan Bahri (diperankan Lukman Sardi), politikus yang begitu berpihak kepada rakyatnya. Yah memang belum ada, salah satu pesan film ini ya semoga kelak ada orang yang seperti itu.”, ujarnya sambil ditutup tawa dengan seluruh penonton yang hadir. 

Gundala (2019) adalah film yang diadaptasi dari tokoh komik ciptaan Hasmi yang muncul pertama kali dalam komik “Gundala Putra Petir” pada tahun 1969. Kemudian dibuat dalam versi film oleh sutradara Joko Anwar. Gundala (2019) sendiri menjadi film pertama yang ada dalam Jagat Sinema Bumi Langit alias Bumi Langit Cinematic Universe (BCU). Malam penganugerahan kepada para pemenang penghargaan JAFF-ISA akan diadakan pada tanggal 23 November 2019 bertempat di Empire XXI Yogyakarta.