Yogyakarta, 22 November 2019 – Empu (Sugar on The Weaver’s Chair) menjadi salah satu film bagian dalam program Asian Perspectives JAFF 14 ‘Revival’ yang tayang pada tanggal 22 November 2019 pukul 13.00 WIB di Studio 3 Empire XXI Yogyakarta. Bercerita mengenai kisah tiga perempuan di tiga daerah di Indonesia sedang berjuang dalam mendefinisikan takdir mereka di tengah kehidupan masyarakat yang kerap kali melihat sebelah mata kemampuan wanita.

Sutringah, istri seorang petani gula nira berasal dari Banyumas. Sebagai keluarga petani gula nira, Sutringah sering menghadapi kesulitan ekonomi. Kehidupannya bertambah sulit saat suaminya menderita lumpuh total akibat kecelakaan saat menderes nira. Sutringah dihadapkan pada proses mendefinisikan perannya sebagai Perempuan, sebagai istri, dan sebagai penopang hidup keluarga untuk mencari nafkah. Yati, perempuan difabel yang bekerja untuk usaha keluarganya, usaha tenun lurik di Klaten, Jawa Tengah. Yati menghadapi idealismenya yang berbenturan dengan Ayahnya dan kebutuhan eksistensi diri memanggil keras dalam dirinya. Yati kemudian memutuskan bekerja di pabrik garmen dan berharap bahwa mimpinya akan terpenuhi di sana. Maria, seorang janda dari desa Kefa di Nusa Tenggara Timur bersama para janda lainnya menjalankan diri mereka sebagai perempuan dalam menurunkan tradisi tenun ke anak-anak muda di lingkungan mereka. Walaupun apa yang mereka kerjakan sering berbenturan dengan keadilan yang sering tidak memihak kepada mereka.

Sesi tanya jawab seusai pemutaran Empu dihadiri oleh Harvan Agustriansyah (Sutradara), Anissa Hertami (Pemeran Sutringah), Yati (Tiara Arianggi), dan segenap crew lain yang menghadiri pemutaran. “Kita angkat tiga cerita itu dari kisah nyata yang didapatkan teman-teman mitra. KIta mencoba selokal dan sedekat mungkin dengan lokasi asal cerita tersebut. Sebagian besar pemeran pun kita pakai dari teman-teman lokal.” jelas Harvan ketika menjelaskan begitu kuatnya unsur kultur yang diangkat pada masing-masing daerah. “Saat kita putar film ini di Kupang. Banyak yang menyampaikan komentar. Mereka sering melihat cerita-cerita yang dari Jawa itu di TV-TV. Kemudian saat menonton kisah ibu Maria dari Kefa, mereka merasa lebih dekat. Apalagi mereka tertawa terbahak-bahak ketika mendengar lelucon khas daerah tersebut diselipkan di dalamnya.” tambahnya.

Salah satu pemeran, Anissa Hertami, menceritakan pengalaman dalam proses pendalaman karakternya, “Saya mencoba untuk naik ke pohon, menderes nira. Baru sedikit saja sudah khawatir untuk terjatuh. Bayangkan mereka yang menaiki pohon setinggi 5-6 meter itu setiap harinya. Itulah perjuangan hidup yang sesungguhnya.”, ujar Anissa dengan kagum.

Kemampuan para tokoh perempuan dalam film menjadi sentilan bagi semua yang menonton untuk tidak meragukan kemampuan seseorang. Setiap tahunnya, program Asian Perspectives selalu mengemas dan menampilkan wajah baru film-film Asia. Harapannya film-film Asia dapat menjadi media pembelajaran dan pengalaman agar masyarakat Indonesia bisa belajar dengan sesamanya warga Asia. Sehingga masyarakat Indonesia dan Asia tidak hanya menerima perspektif – perspektif barat saja. Salah satu penonton, Feni dari Jogja Film Academy, turut memuji film Empu, “Filmnya keren. Tertarik lebih jauh untuk mengetahui proses developmentnya seperti apa.  Saya sangat suka dengan konflik ceritanya”, katanya.

Empu (Sugar on The Weaver’s Chair) mendapat berbagai reaksi dari 147 penonton yang membawa penonton dalam suasana haru dan bangga atas apa yang telah dilakukan Sutringah, Yati, dan Maria.