Terkadang, menjadi filmmaker bukan hanya soal memvisualisasikan cerita dengan menarik. Banyak hal yang menjadikan visualisasi cerita menjadi sebuah bentuk sajian yang dapat dinikmati dalam layar, salah satunya adalah pendanaan. Hal inilah yang dialami oleh Nattapong Pipattanasub dan Pisuth Penkul, dua laki-laki yang sedang mengejar mimpinya menjadi filmmaker. Untuk merealisasikan draft yang mereka buat, dua pria berkacamata ini berusaha untuk mencari pendonor dana agar film mereka bisa diproduksi sesuai rencana.

Dossier of the Dossier merupakan curahan hati sang sutradara, Sorayos Prapapan, ketika mencari pendonor dana untuk film pertamanya lima tahun yang lalu. Bukan uang yang ia dapatkan, namun banyak email penolakan dari calon pendonor untuk membantu mewujudkan mimpinya. Baginya kala itu, mencari pendonor untuk filmnya jauh lebih susah daripada pembuatan film itu sendiri.

Lewat Nattapong dan Penkul, Sorayos menceritakan bagaimana proses penyusunan draft untuk dipresentasikan di depan pendonor, bertemu langsung dengan calon pendonor, hingga mendapat email penolakan karena alasan yang konyol -karena nama tokohnya, misalnya. Menariknya, kesialan-kesialan ini dikemas dengan lucu dan humoris, seperti mati listrik di saat yang tidak tepat atau bukannya mendapat uang, justru mengeluarkan uang lebih banyak. Pengemasan cerita seperti ini seakan mengingatkan kita bahwa kesialan kadang lebih baik untuk ditertawakan -daripada dipikirkan terlalu dalam.
Melalui film berdurasi 18 menit ini, Sorayos ingin menyemangati para filmmaker muda untuk terus berkarya tanpa takut kesulitan dana. Pada akhirnya, film ini membuat kita tersenyum dengan satu pesannya: kalau tidak dilakukan, kita akan mati penasaran!

Dossier of the Dossier pertama kali ditayangkan di 2019 Locarno Film Festival, Switzerland. Dalam 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival, film asal Thailand ini bersama dengan sembilan film lainnya akan diputar dalam program Light of Asia – Blencong & Student Awards. (2019)

Ditulis oleh Ima G. Elhasni | Disunting oleh vanis