Pada masa transisi politik Indonesia yang dimulai pada tahun 1998, penduduk daerah Tapal Kuda di Jawa Timur menjadi gelisah melihat kemunculan pembunuh bayaran bertopeng yang menyerupai ninja. Para penyerang ini dikatakan memiliki kekuatan mistik, dan menargetkan para ulama dan para guru mengaji Alquran di daerah tersebut. Motifnya adalah untuk memecah belah bangsa Indonesia, khususnya warga Nahdlatul Ulama, salah satu organisasi Muslim terbesar di Indonesia. Desas-desus yang diintensifkan meningkatkan kecurigaan yang mengarah pada pecahnya serangan dan pembunuhan kepada ‘ninja’ tersebut. Film Bura berlatar pada masa-masa kegelisahan tersebut.

Film pendek berdurasi 12 menit ini berkisah tentang seorang santri yang meninggalkan tugasnya menjaga guru mengaji untuk bertemu kekasihnya, seorang santriwati, di hutan. Ketika mereka sedang asyik berpacaran di hutan, muncullah beberapa santri yang sedang mengejar-ngejar ninja penyebar teror yang sering mengincar guru-guru mengaji. Karena takut ketahuan sedang berpacaran, sang santri laki-laki pun segera menjaga jarak dengan kekasihnya si santriwati itu dan kemudian bergabung dengan para santri yang sedang mengejar ninja.

Ketika kita menonton film fiksi pendek Eden Junjung, kita akan disuguhkan pada ironi. Bunga dan Tembok atau Flowers in the Wall (2016), fiksi pendek pertamanya, yang menceritakan kisah istri Wiji Thukul dalam perjalanan membuat surat kematian sebagai syarat peminjaman uang, menyuguhkan ironi karena sang istri masih memercayai suaminya masih hidup. Lalu fiksi pendek keduanya, Happy Family (2016), juga menyuguhkan ironi. Film ini menceritakan  seorang penjaga masjid yang hidup seorang diri dalam perjalanannya mencari anak perempuannya yang tak pulang-pulang. Ia berkelana dari Indramayu, Jawa Barat ke Yogyakarta bermodal alamat yang didapat dari agen penyalur tenaga kerja yang telah mengirimkan anaknya 4 tahun lalu. Film ini menyuguhkan ironi karena berbagai kejutan yang disajikan di akhir filmnya.

Dan setelah menyajikan ironi berupa krisis kepercayaan antara hidup dan mati dalam Bunga dan Tembok dan krisis moral antara baik dan buruk dalam Happy Family, Eden Junjung kembali menyajikan ironi berupa krisis berpakaian dalam film Bura. Bura dapat bermakna sebagai ‘desas-desus’ dan dapat pula diasosiasikan sebagai ‘burka’ jika disisipi huruf k. Sepertinya, Eden Junjung ingin berbicara tentang krisis berpakaian. Ketika berpakaian dianggap mencerminkan moral tertentu atau identik dengan agama tertentu, orang dengan mudahnya dapat menilai seseorang. Cara berpakaian pun dapat menjadi tolok ukur dalam menimbang-nimbang sifat manusia. Bura menyajikan ironi, ketika orang-orang dari kelompok tertentu tidak sadar bahwa orang dengan cara berpakaian yang mencerminkan kelompoknya ternyata juga mirip dengan cara berpakaian musuh mereka.

Setelah dua fiksi pendeknya tayang di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2016, Eden Junjung kini kembali dengan film fiksi pendek terbarunya. Bura akan ditayangkan di 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival “Revival” pada program Light of Asia – Blencong & Student Awards. (2019)

Ditulis oleh Achmad Muchtar | Disunting oleh vanis