Kehilangan merupakan sebuah rasa yang mustahil untuk ditepis; apalagi jika rasa tersebut disebabkan oleh kepergian orang yang tersayang. Ketika rasa kehilangan tersebut telah mengakar, muncul bibit lain bernama kesepian dan kehampaan; yang tentu akan tumbuh entah sampai kapanpun. Sebuah keluarga kecil di Pulau Sado, Jepang dalam kisah Blue Wind Blows (2019), adalah representasi dari rasa-rasa tersebut. Midori dan kedua anaknya, Ao dan Kii, telah kehilangan sosok suami dan ayah mereka. Ia berpamitan untuk mencari sebuah hadiah namun tidak pernah kembali lagi. Midori berusaha menghidupi keluarga mereka seorang diri. Sudah tidak ada tangis yang menyertai, hanya kehampaan yang tampak pada paras wajah Midori sepanjang waktu. Kii terus mempertanyakan tentang sosok monster misterius yang telah membawa pergi ayahnya. Pertanyaan-pertanyaan lugu dan polos anak seusianya tentang monster tersebut terus menerus ditanyakan pada Ao menjelang tidur. Sedangkan Ao terus menerus melawan rasa hampa pada dirinya dengan mencoba abai pada kondisi sekitarnya. Hingga suatu saat kehampaannya sedikit tertepis atas jalinan pertemanannya dengan Sayoko, seorang gadis misterius yang pernah mencuri beberapa buku perpustakaan sekolahnya.

Blue Wind Blows (2019) merupakan karya putis tentang kehilangan, kesepian, dan kehampaan. Rasa-rasa tersebut dipresentasikan dari berbagai sudut pandang dengan cara yang menghanyutkan. Sepanjang 88 menit durasi film, suasana kota kecil di Pulau Sado begitu tenang dan mendamaikan. Tetsuya Tomina menyajikan ketenangan tersebut dari shot Pulau Sado yang memukau, hembusan angin dan deburan ombak yang hampir selalu terdengar, hingga representasi tokoh yang tak pernah lebih dari tiga dalam satu scene. Elemen-elemen tersebut menambah kuat penggambaran kehilangan yang seakan tak hanya dirasakan dalam keluarga Midori, Ao, Kii, maupun Sayoko. Kesepian yang membuat mereka berperan sesuai porsi mereka. Kesepian pulalah yang menjadi konflik utama setiap tokohnya.

Proses keluarga kecil Ao untuk menyembuhkan rasa hampa akhrinya dilakukan sesuai dengan cara mereka masing-masing. Midori dengan pemahaman manusia dewasa, Ao dan Kii melalui sudut pandang anak-anak mereka, serta jembatan penghubung antara kedua pemahaman itu. Salah satu penyembuhnya ternyata dapat ditemukan pada kesepian Sayoko. Harapan sekecil apapun masih tetap mereka nyalakan walau sudah dalam tahap merelakan kehilangan. Pertanyaan Ao dan Kii atas sosok monster penculik ayahnya akhirnya terjawab dan menjadi sangat relevan dengan pertanyaan atas penyembuhan rasa kehilangan yang telah menahun tumbuh. Pada akhirnya, Blue Wind Blows (2019) menghadirkan dunia haru nan melankolis tanpa mengeksploitasi kesedihan. Blue Wind Blows (2019) hadir sebagai presentasi proses rekonsiliasi terhadap kehilangan. Karya Tetsuya Tomina berkompetisi dalam program Asian Feature: NETPAC & Geber Awards 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival ‘Revival’ dan dapat disaksikan pada tanggal 20 November 2019 pukul 19:00 WIB di Studio 3 Empire XXI Yogyakarta. (2019)

 

Ditulis oleh Titus Kurdho | Disunting oleh vanis