Yogyakarta, 21 November 2019 – Terinspirasi dari kisah nyata, film Konpaku karya Remi M Sali hadir dalam program Asian Perspectives JAFF 14 ‘Revival’. Film ini menawarkan mitos ataupun kepercayaan masyarakat Asia akan makhluk gaib. Tayang di Studio 4 Empire XXI Yogyakarta, film yang erat akan budaya melayu ini cukup memberikan hiburan tentang kisah percintaan antara manusia dan makhluk halus.

Konpaku mengisahkan sebuah cinta terlarang antara seorang pria Melayu-Muslim bernama Haqim dan wanita Jepang sensual bernama Midori. Hubungan yang diharapkan berjalan baik malah membuahkan petaka, satu per satu peristiwa menyeramkan pun bermunculan menimpa orang-orang terdekat Haqim. Midori adalah makhluk sejenis succubus, yaitu setan berwujud wanita cantik yang merayu laki-laki melalui mimpi untuk melakukan hubungan seksual Mereka mengambil energi dari mereka agar bisa bertahan hidup hingga korban mereka kelelahan atau meninggal.

“Film ini diambil dari pengalaman saya saat melihat saudara saya sendiri di-ruqyah,” ujar Remi M Sali saat masuk ke sesi diskusi. Dia bercerita, Haqim merepresentasikan saudaranya yang awalnya dikira memiliki emotional problem setelah lamarannya. Pemilihan Sukubus sebagai hantu pun dipilih Remi karena ia sendiri tidak tahu makhluk apa yang mengganggu saudaranya. “Saya sangat bingung saat disuruh meruqyah, padahal saya tak percaya hantu,” katanya.

Menariknya, film berdurasi 102 menit ini ternyata dibuat dengan budget yang sangat tipis, sekitar Rp3.000.000 dalam kurs rupiah. Remi pun melakukan semua proses mulai directing, editing, dan coloring (color grading) walaupun dia buta warna.

Konpaku menyentuh dua topik yang sangat sensitif dalam budaya apapun, misalnya agama dan seksualitas. Terlebih lagi, kontradiksi antara seks dan agama dieksplorasi melalui perspektif pria Muslim-Melayu. Menariknya lagi film ini merupakan pengalaman salah satu keluarga sang sutradara yang pernak “terikat” dengan roh jahat dan melakukan pengusiran setan tersebut.

Konpaku dapat berarti jiwa atau roh dalam bahasa Jepang. Pada film ini diceritakan bahwa jiwa tersebut bisa masuk melalui kaki dan bisa disembuhkan melalui kaki pula, karena jalur masuk dan keluar roh melewati kaki. Kepercayaan seperti itu bisa dibilang erat dengan budaya orang Melayu ataupun Asia.

Masuknya film ini ke dalam daftar program Asian Perspectives membuat warna baru dalam menyingkap berbagai gagasan dan fenomena yang terjadi di Asia. Hal tersebut hadir karena adanya kegelisahan yang nyata terjadi di sekeliling kita. Pada akhirnya diolah sedemikan rupa dalam layar sinema.