Yogyakarta, 23 November 2019 – Film panjang perdana Yusuf Radjamuda, Mountain Song (2019), secara perdana ditayangkan di Indonesia pada gelaran Jogja-NETPAC Asian Film Festival 14 ‘Revival’ pada hari Kamis, 21 November 2019. Pemutaran ini disertai dengan sesi tanya-jawab bersama dengan Yusuf Radjamuda. Mountain Song (2019) merupakan salah satu film panjang yang bersaing dalam program kompetisi Asian Feature: NETPAC & Geber Awards.

Mountain Song (2019) menceritakan tentang kisah seorang anak penakut bernama Gimba yang tinggal bersama dengan ibu dan kakeknya. Gimba tinggal di sebuah desa terisolir yang memiliki akses yang buruk. Ayah Gimba telah meninggal karena tidak sempat mendapatkan perawatan yang layak karena kondisi desanya yang terpencil. Dalam traumanya tersebut, Ibu Gimba mulai mengajari Gimba untuk berani terbiasa hidup sendiri dengan cara membiarkan Gimba bermain dalam sebuah gubuk lalu menjemputnya kembali saat ia selesai bermain. Konflik dimulai saat Gimba mulai menyadari bahwa ibunya pergi terlalu lama dan tidak kunjung menjemputnya.

“Ide cerita ini berawal pada akhir 2013 ketika menyusuri suatu pegunungan di Sulawesi Tengah. Masih ada banyak jalur binatang yang digunakan untuk masuk ke suatu perkampungan. Saya terngiang dengan tempat itu. Kemudian memutuskan mengangkatnya menjadi Mountain Song ini.”, ungkap Yusuf yang juga memilih anaknya sendiri untuk memerankan tokoh utama, Gimba.

Yusuf secara rinci berbagi mengenai proses pembuatan Mountain Song (2019). “Ada banyak pertimbangan yang berganti pada pra-produksi dan ketika produksi. Salah satunya pemilihan shot, Saya sebelumnya ingin pengambilan gambar yang dinamis tetapi akhirnya saya memutuskan mengambilnya panjang saja (tanpa close-up) supaya lebih masuk ke dalam dunia Gimba. Dunia di mana ada rasa takut Gimba akan kesendirian dan rasa takut ibunya akan kehilangan Gimba.”, jelas Yusuf yang kemudian juga membiarkan penonton untuk bebas mempersepsikan pesan yang ingin disampaikan dari film ini.

Film berdurasi 76 menit ini berhasil ditayangkan dan dihadiri oleh 146 orang dengan salah satu testimoni dari Gerry, mahasiswa asal Jakarta yang sedang kuliah di Yogyakarta. “Saya melihat unsur tradisi dan budaya begitu kental di film ini, gaya film Fourcolours sekali. Ceritanya menarik, saya menyukai premisnya tentang dunia Gimba.”, ungkapnya.