Yogyakarta, 22 November 2019 – Pemutaran film Paangshu karya Visakesa Chandrasekaram pada hari Jumat (22/11) pukul 10.10 pagi di studio 2 Empire XXI diakhiri dengan sesi tanya jawab dengan Visakesa Chandrasekaram, sutradara film Paangshu. Film ini ditayangkan dua kali pada gelaran Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-14 “Revival”. Selain Jumat (22/11) pagi hari, salah satu karya yang masuk nominasi NETPAC & Geber Awards ini juga akan ditayangkan pada hari Sabtu (23/11) pukul 13. 00 siang.

Paangshu bercerita tentang Babanona (Nita Fernando), seorang tukang cuci berkasta paling rendah di Sri Lanka. Ia dipanggil untuk sebuah parade identifikasi di mana ia mengenali Lionel sebagai salah satu anggota paramiliter yang menculik anaknya pada masa pemberontakan 1988/89. Sementara Indika (Jagath Manuwarna), seorang jaksa penuntut umum tak tertarik untuk membantu Babanona menemukan anaknya yang hilang, Namalee (Nadie Kammallaweera), istri sang anggota paramiliter yang sedang hamil meminta pengampunan dari si tukang cuci. Ketika persidangan dalam gedung pengadilan yang bobrok itu terus diperpanjang hingga berbulan-bulan, berbagai rahasia memalukan perlahan diungkap oleh para pemberontak yang kalah, para tentara yang menang, dan mereka yang tertindas di tengah-tengah. “Saya dulu adalah seorang jaksa. Banyak sekali klien saya berasal dari korban tahanan politik. Mereka tidak membuka luka masa lalu itu karena beragam alasan. Menanggung kebenaran dalam diam adalah hal yang sangat mengganggu bagi saya pribadi. Oleh karena itu saya menyampaikannya dalam rupa film ini.”, ungkap Visakesa.

Sesuai dengan tujuan program Asian Features, semakin berkembangnya film Asia Pasifik penonton juga harus sadar bahwa film menjadi dekat dan relevan dengan kehidupan orang Asia sendiri itu sangatlah penting. Di samping sebatas tontonan film-film ini juga dapat memberikan irisan budaya dan memberikan pengalaman pengetahuan lain untuk memahami Asia dan Pasifik melalui film itu sendiri. Salah satunya adalah tentang bagaimana kekuasaan sulit untuk dilawan apalagi dihadapkan dengan status sosial, masa lalu yang kelam, dan kekuatan mutlak suatu pemerintahan. Semua itu dapat ditemukan dalam Paangshu.