Berawal dari penemuan ide yang digagas oleh Azzam Fi Rullah selaku sutradara film independen, BBBBB (2019) lahir. Azzam mulai melakukan penulisan script dan berdiskusi bersama teman-temannya untuk melahirkan karya ini. Film ini mengikuti kegiatan Azzam hingga melakukan kegiatan pitching dengan produser, karya script film nya yang berjudul Pocong Hiu Unleashed (2017) sempat diragukan untuk berselancar pada festival- festival film. Meski demikian, beruntung Ia memiliki tim yang sepaham serta kesamaan visi, pengerjaan pun dimulai. Samuel Paul Manurung selaku sutradara BBBBB (2019) mendokumentasikan dari awal hingga selesai produksi film Pocong Hiu Unleashed (2017). Fokus pada kiprahnya dalam film-film kelas B atau B-Movie, Azzam menjadi sutradara yang membangkitkan kembali bentuk hiburan dalam kemasan audio visual bagi masyarakat sosial ekonomi kelas bawah. Pasalnya, ide yang ditampilkan mudah dicerna dan cenderung klise. Meski kerap kali dianggap sebagai film sampah, ide dan pembuatannya dilakukan dengan sepenuh hati. Bahkan pada bagian-bagian tertentu, Ia memikirkannya secara matang untuk menarik reaksi penonton. Baginya, semua lapisan masyarakat patut menikmati sajian karya layar lebar. 

Bersama dengan saudaranya, Deka; sering disebut dengan Amer Bersaudara; turut melanggengkan karya sinema dengan menghadirkan unsur kekerasan, darah, hingga seksualitas. Eksploitasi objek tersebut condong menimbulkan gairah atau fantasi sebagai bentuk hiburan bagi penonton. Bukan sebagai kritik sosial, film besutan Azzam sebuah ungkapan karya bagi film sejenis. Pengolahan di balik layar yang dilakukan Paul justru menggambarkan produksi yang cenderung seadanya, effortless, namun malah menjadi titik perhatian itu sendiri. Bagi Azzam, film sebagai medium untuk mengalokasikan ide-ide yang tidak realistis dan tidak dapat ditemui dalam kehidupan nyata. 

BBBBB (2019) tergabung dalam program Layar Komunitas dan ditayangkan pada perhelatan 14th Jogja-NETPAC Asian Film Festival ‘Revival’ tanggal 20 November 2019, pukul 19.00 WIB di LPP Yogyakarta. Film berdurasi 18 menit ini akan membawa penonton dalam proses fluktuasi kehidupan B-Movie di Indonesia. (2019)

 

Ditulis oleh Agatha Duhita | Disunting oleh vanis