Yogyakarta, 21 November 2019 – Love for Sale 2 karya Andibachtiar Yusuf hadir untuk merayakan pesta perfilman Indonesia di JAFF 14 ‘Revival’. Love for Sale 2 merupakan salah satu film yang masuk dalam jajaran film dalam program JAFF Indonesia Screen Awards (ISA). Tayang di Studio 5 Empire XXI Yogyakarta, Love for Sale 2 berhasil menghibur 125 penonton.

Sebuah film sekuel karya Andibachtiar Yusuf ini menceritakan Indra ‘Ican’ Tauhid, seorang lelaki muda berusia 30 tahun, harus menghadapi perjodohan yang dilakukan oleh ibunya, Rosmaida. Terkenal di kalangan ibu-ibu yang kerap memberikan nasehat dan solusi kepada orang disekitarnya tentang masalah sehari-hari, terutama hal yang berkaitan dengan religi. Membuat ibu Ican merasa kurang pas bila anaknya yang sudah dewasa itu belum kunjung menikah. Ican yang berpendidikan dan berpikiran moderen, menganggap pernikahan bukan sebagai prioritas utamanya pada saat itu. Kontradiksi ini pun memancing perkelahian antara ibu dan anak.

Turut hadir bersama penonton Studio 5 Empire XXI, penulis Love For Sale 1 dan 2, Irfan Ramly, atau akrab dipanggil Ipank. Seakan sudah menebak apa yang ada dipikiran penonton, Irfan pun menjelaskan bahwa Love for Sale 2 ini tidak dibuat sama dengan sequel Love for Sale sebelumnya. “Kami percaya dengan gagasan film ini untuk membuat suatu yg baru dan sengaja tidak menyamakannya. Ini akan menjadi cerita yg berbeda, jika sebelumnya kisah seorang pemuda setengah baya yang nyaman menjomblo, kali ini kisah seorang anak dan ibunya. Secara keseluruhan ceritanya lebih kompleks dan banyak persoalan. Namun, dari sekian banyak elemen yang menarik, hanya yang dipertahankan dalam sequel Love for Sale 1 dan 2 adalah kehadiran Arini.”, jelas Ipank. Para penonton pun mulai riuh saat membahas karakter Arini. “Karakter Arini memang sengaja kami buat simple seperti memesan gojek, tapi senyumnya Arini yang manipulatif adalah satu satunya yang diingat oleh penonton. Semoga penonton di sini tidak sakit hati oleh Arini, ya.”, tutup Irfan sebelum sesi foto bersama dengan para penonton.

Love For Sale 2 hadir dengan keragamannya, baik dari segi bertutur, eksekusi, maupun gaya bercerita. Hal ini paling tidak telah menjadi sebuah respons yang baik atas kebutuhan penonton kita yang tidak melulu butuh film sebagai hiburan, namun juga film sebagai edukasi yang menjawab beragam perkara sosial politik kita selama ini.